PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak mulai menghangat kembali. Selasa (27/2) pukul 7.21 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2018 di New York Mercantile Exchange (Nymex) menguat 0,12% ke US$ 63,99 per barel ketimbang penutupan harga kemarin.

Ini adalah kenaikan hari keempat harga minyak WTI. Dalam empat hari, harga minyak menguat 3,74%.

Harga minyak brent pun masih menguat hingga penutupan perdagangan kemarin. Harga minyak yang menjadi acuan ini ditutup pada US$ 67,50 per barel pada Senin (26/2). Dalam tiga hari, harga minyak yang diperdagangkan di ICE Futures ini menanjak 3,18%.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan, Arab Saudi akan mempertahankan penurunan produksi yang saat ini sudah dikurangi dari level sebelumnya. Khalid mengatakan, produksi minyak Arab bulan Januari hingga Maret akan lebih rendah ketimbang batas produksi, dengan rata-rata ekspor kurang dari 7 juta barel per hari.

Arab Saudi berharap, negara-negara OPEC lain juga menekan produksi hingga tahun depan untuk menstabilkan harga setelah kesepakatan berakhir pada tahun ini. “Saat ini sedang ada kajian dan ketika kami tahu persis apa yang bisa menyeimbangkan pasar, kami akan mengumumkan langkah selanjutnya, yang kemungkinan adalah mengurangi batasan produksi,” kata dia seperti dikutip Reuters.

Khalid menambahkan, keseimbangan pasar bisa terjadi pada tahun depan.

Di sisi lain, cuaca dingin di Eropa menyebabkan perusahaan penyulingan minyak menunda jadwal pemeliharaan pabrik. Hal ini bisa menambah permintaan minyak mentah dalam jangka pendek.

“Menurut kami, permintaan akan cukup kuat, tapi tidak ada permintaan yang sangat besar,” kata Joel Hancock, analis minyak Natixis. Dia memperkirakan, harga minyak akan bergerak di kisaran US$ 60 hingga US$ 70 per barel pada tahun ini.

Harga Bahan Bakar Minyak mengalami perubahan harga per tanggal 24 Februari 2018. PT Pertamina menaikkan harga BBM Pertamax Series lantaran harga minyak mentah dunia terus menanjak.

Saat ini Pertamax dijual seharga Rp 8.900 per liter, naik Rp 300 dari sebelumnya Rp 8.600 per liter.

Harga Pertamax Turbo saat ini mencapai Rp 10,100 per liter atau naik Rp 500 dari harga sebelumnya sebesar Rp 9.600 per liter.

Pertamina Dex juga mengalami kenaikan harga sebesar Rp 750 per liter menjadi Rp 10.000 per liter dari sebelumnya Rp 9.250 per liter.

BBM jenis Dexlite saat ini dijual seharga  Rp 8.100 per liter. Harga Dexlite naik sebesar Rp 600 dari harga sebelumnya yang dipatok Rp 7.500 per liter.

Bagaimana hitung-hitungan kenaikan minyak ikut mendorong harga BBM?

Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, harga keekonomian BBM dilihat biaya produksi dan distribusi per margin, dan tergantung harga minyak mentah.

Menurut perhitungannya, dengan harga minyak mentah yang ada saat berkisar US$ 67 per barel, harga untuk Research Octane Number (RON) 95 seperti Pertamax berkisar Rp 8.300-8.500 di luar margin perusahaan. Jika perusahaan mengambil margin 10%, berarti harga keekonomian RON 95 sekitar Rp 9.100-9.300.

“Biaya produksi 8.300-8.500 itu sudah memperhitungkan biaya angkut, distribusi dan pajak,” katanya kepada kontan.co.id, Minggu (25/2).

Dia melanjutkan, untuk Pertamax, Pertamina sangat sangat mungkin mematok harga Rp 8.000 per liter, serta sekitar Rp 7.800- Rp 8.000 per liter untuk RON 92.

Sementara untuk Premium atau RON 88, harga ke ekonomiannya setara dengan harga jual sekarang. Dia memprediksi, kemungkinan Pertamina tidak dapat untung dari penjualan Premium.

“Sebenarnya, BBM untuk transportasi itu yaitu Premium dan Solar tidak disubsidi lagi, tapi harganya diatur atau ditetapkan oleh pemerintah. Kalau harga Premium dan Solar tidak naik maka margin Pertamina akan terpangkas,” kata Fabby.

Source : kontan.co.id