KONTAK PERKASA FUTURES – Harga minyak melanjutkan kenaikan dua har sebelumnya. Penurunan rig yang beroperasi di Amerika Serikat (AS) serta konflik Irak mendorong laju harga minyak.

Pada Selasa (24/10) pukul 7.28 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2017 di New York Mercantile Exchange naik tipis 0,08% ke level US$ 51,94 per barel.

Sedangkan harga minyak brent untuk pengiriman Desember 2017 di ICE Futures naik tipis ke US$ 57,44 per barel ketimbang hari sebelumnya US$ 57,37 per barel. Harga minyak brent dua hari terakhir ini masih lebih rendah ketimbang penutupan akhir pekan lalu di US$ 57,75 per barel.

“Ada banyak sentimen pasar yang berkebalikan, dan harga minyak tampaknya kehilangan arah,” kata Stewart Glickman, head of energy research CFRA Research di New York.

Dia menambahkan, volatilitas harga masih rendah dan tidak ada tren berkelanjutan yang terjadi belakangan. Pergerakan harga minyak WTI masih berada di kisaran US$ 45-US$ 55 per barel.

Jumlah rig yang beroperasi di AS turun tujuh menjadi 736 pada sepekan yang berakhir 20 Oktober lalu. Angka keluaran Baker Hughes ini adalah angka terendah sejak Juni. “Turunnya aktivitas pengeboran ini belum mempengaruhi optimisme kenaikan produksi minyak AS tahun depan,” ungkap Standard Chartered dalam catatan yang dikutip CNBC.

Kenaikan tensi Timur Tengah menjadi salah satu pendorong hargga minyak. Ekspor minyak mentah lewat jaringan pipa yang dikendalikan Kurdistan ke Turki naik menjadi 288.000 barel per hari pada hari Senin ketimbang hari sebelumnya 255.000. Reuters melaporkan, jaringan pipa ini biasanya menyalurkan 600.000 barel minyak per hari.

Menurut sumber Reuters, pasukan Irak mengirimkan tank dan artileri dekat Kurdistan, tempat jaringan pipa ekspor minyak. Menteri Minyak Irak Jabar al-Luaibi mengatakan, ekspor minyak naik dari daerah Basra di selatan sebesar 200.000 barel per hari yang bisa menutup penurunan pasokan dari ladang Kirkuk.

Source : kontan.co.id