Harga gas di Indonesia saat ini terpantau sangat tinggi. Jauh melebihi dari harga gas di negara Singapura yang tidak memiliki kekayaan alam berupa gas alam.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) yaitu Syamsir Abduh mengatakan, kondisi yang demikian disebabkan oleh banyaknya pihak yang saling terlibat dalam rangkaian rantai distribusi.

KONTAK PERKASA FUTURES – Ia menyebut, gas yang berasal dari produsen harus melewati hingga 5 lapis ‘pemain’ yang memperpanjang rantai distribusi sehingga berakibat harga gas di Indonesia melambung sampai sangat tinggi.

“Kita bayangkan kalau dari gas keluar sekitar harga US$ 4-5 per MMbtu, sampai ke industrinya itu sudah mencapai US$ 9-10 MMbtu. Dikarenakan terlalu banyak pemain. Itu ada yang namanya transporter, ada yang namanya distributor, itu rantainya panjang sekali. Lapisan rantai itu bisa 4 sampai 5,” beber dia saat ditemui di Hall Dewan Pers, Jakarta Pusat, hari Minggu (4/9/2016).

Banyaknya pemain yang terlibat pada rantai distribusi gas di negara Indonesia ini, menurutnya tidak lepas dari terlalu bebasnya regulasi tentang perdagangan gas di Indonesia yaitu sejak tahun 2001.

“Nah itu kalau dulu sebelum ada UU No. 22 Tahun 2001, itu Pertamina yang menjalankan langsung ke industrinya. Jadi pada saat diubah undang-undangnya kan monopoli alamiah pasti dikompetisikan. Jadi yang pasti terlalu liberal (terlalu bebas),” tutur dia.

Di saat seperti sekarang ini, menurutnya, campur tangan dari pemerintah sangat diperlukan. Pemerintah pun harus bisa bertindak sebagai pengendali pasar pada industri gas karena sektor ini merupakan salah satu sektor inti. Yang menurut amanah undang-undang mtentu saja harus dikendalikan pemerintah.

“Nah itu maksud saya ya bagaimana leadership-nya (kepemimpinannya) di situ, yang punya wewenang (yang punya hak mengendalikan) di situ. Harus tetap saja dikendalikan. Ada market operator. Kalau ada orang keluar jalur (melanggar aturan) ya harus samperin (datangi),” tegas dia.

Kondisi ini juga sempat dikeluhkan oleh para pelaku industri tekstil yang harus membeli gas sampai dengan harga US$ 12/MMbtu. Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), yang bernama Ernovian G Ismy, menuturkan biasanya para pengusaha tekstil diharuskan membeli gas dari trader.

Panjangnya rantai pasokan gas yang berasal dari sumbernya hingga sampai ke dunia industri inilah yang membuat harganya jadi mahal.

Ernov mengungkapkan, terdapat biaya-biaya tambahan yang dikenakan oleh trader. Hal ini membuat harga gas jadi tinggi sekali. “Jadi umumnya selain harga gas ada tambahan-tambahan biaya lain,” ucapnya.

Mahalnya harga gas tersebut membuat industri tekstil Indonesia menjadi sulit bersaing dengan industri tekstil di negara-negara tetangga. Dari komponen untuk biaya energi saja, Indonesia ini sudah kalah efisien sampai dengan 50% atau lebih.

Source : detik.com