KONTAK PERKASA FUTURES – Pemerintah memiliki niat menurunkan harga gas industri yang semula US$ 6 per mmbtu menjadi US$ 4 sampai US$ 5 per mmbtu. Jika rencana ini terealisasi, prospek bisnis sejumlah emiten, misalnya keramik dan semen, akan terkerek.

Kementerian Perindustrian menyampaikan usulan, harga gas di rentang US$ 4-US$ 5 per mmbtu serta memperluas penurunan ke beberapa sektor industri, misalnya tekstil, makanan olahan, pulp dan kertas, ban serta farmasi.

Pada awalnya, insentif ini hanya berlaku bagi industri pupuk, petrokimia, oleokimia, keramik, kaca baja, dan sarung tangan karet.

Christian Saortua, Analis Minna Padi Investama menilai, sektor industri yang paling terkena dampak kebijakan tersebut adalah industri keramik. “Penurunan harga gas memiliki efek positif bagi industri keramik,” kata dia kepada kami, Kamis (18/8) pekan lalu.

Christian menilai, PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dan PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) memiliki prospek cukup baik jika harga gas turun. Hal tersebut lantaran porsi gas dalam pos cost of goods sold (COGS) cukup besar di industri keramik.

Kinerja emiten keramik akan semakin meningkat, apabila bisnis properti bergerak di akhir tahun ini, jadi mengerek penjualan keramik sampai akhir tahun nanti.

Hans Kwee selaku Direktur Investa Saran Mandiri mengemukakan, kalau harga gas akhirnya menurun, maka akan berimbas pada industri pada sektor terkait, khususnya industri yang paling banyak memakai gas sebagai sumber energi, seperti sektor baja, semen serta keramik.

Untuk semen, Hans memprediksikan, pertumbuhan industri bubuk abu-abu tersebut tidak akan terlalu signifikan, hanya berkisar 5%. Hal tersebut disebabkan masih akan terjadi kelebihan pasokan semen serta persaingan di industri semen.

“Sektor properti, yang dapat mendongkrak permintaan semen, juga masih melambat,” ucap dia.

Kementerian Perindustrian memprediksikan, total kapasitas industri semen nasional pada 2017 mencapai 102 juta ton. Sementara total kebutuhannya sebanyak 70 juta ton per tahun. Akan tetapi, emiten semen telah menempuh berbagai siasat menghadapi prediksi oversupply itu.

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), salah satunya, memilih menghentikan operasi dua pabrik yang berlokasi di Citeureup, yakni pabrik P1 dan P2. Sedangkan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mengambil langkah tetap mempertahankan harga agar mempersempit pengurangan harga jual rata-rata.

Jika kebijakan penurunan harga gas industri terlaksana, Hans merekomendasikan sejumlah saham misalnya SMGR, INTP dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya menilai, secara umum rencana tersebut akan positif bagi sejumlah emiten pada Bursa Efek Indonesia. “Akan memberikan nuansa yang lebih baik,” kata dia.

Kebijakan diturunkannya harga gas industri, apabila terwujud, setidaknya bisa mendorong lebih cepat lagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh sebab itu, kata William, seharusnya tidak ada sektor yang berpotensi mengalami kerugian.

Karena, rencana pemerintah ini memungkinkan keadaan yang tentu saja saling menguntungkan. “Dampaknya memang ada yang langsung terasa, yang memang terlihat, tetapi ada juga yang tidak langsung. Saya menilai secara umum ke depan pastinya akan jauh lebih bagus,” ujar William.

Source : kontan.co.id