PT KONTAK PERKASA – Harga emas naik tipis meski masih bergerak di bawah level US$ 1.200 per ons troi. Selasa (9/10) pukul 7.34 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange berada di US$ 1.193,60 per ons troi.

Harga emas naik 0,42% pada hari ini setelah tergerus 1,41% pada perdagangan kemarin. Harga logam mulia ini turun dari level US$ 1.200 sejak awal pekan.

Phil Streible, senior commodities strategist RJO Futures mengatakan, penguatan dollar AS kemarin menyuramkan pesona emas sekaligus koreksi pasar saham. “Jadi mungkin ada penambahan pada US Treasury atau produk yang menawarkan bunga,” kata Streible kepada Reuters.

Pasar saham global kemarin pun menurun akibat kekhawatiran suku bunga Amerika Serikat (AS) yang tinggi, pertumbuhan ekonomi China, pelemahan emerging market, serta kisruh anggaran Italia.

Carlo Alberto De Casa, chief analyst ActivTrades mengatakan, penguatan dollar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga lagi menurunkan harga emas. Bahkan, kekhawatiran ekonomi Italia yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Zona Euro tidak mampu menggiring investor untuk membeli emas.

“Investor tidak yakin untuk membeli emas karena tidak bisa menembus di atas US$ 1.210 yang merupakan resistance kuat,” kata De Casa.

Harga minyak mendapat sentimen positif dari kenaikan upah tenaga kerja dan turunnya tingkat pengangguran Amerika Serikat (AS). Senin (8/10) pukul 7.43 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange naik 0,15% ke US$ 1.207,40 per ons troi.

Harga emas naik sejak Jumat lalu setelah rilis data tingkat pengangguran dan kenaikan upah di AS. “Data penambahan tenaga kerja lebih rendah daripada ekspektasi. Tapi, hal ini tidak cukup untuk memicu aksi beli,”kata Alexander Zumpfe, trader logam mulia Heraeus kepada Reuters.

Dia menambahkan, data tenaga kerja ini setidaknya menopang harga emas bertahan di atas level US$ 1.200 per barel. Data tenaga kerja AS menunjukkan, nonfarm payrolls naik 134.000 di bulan September. Ini adalah kenaikan terendah dalam setahun terakhir.

Data Departemen Tenaga Kersa AS juga menunjukkan kenaikan upah yang kontinyu. Hal ini ini mendorong Federal Reserve untuk melanjutkan program kenaikan suku bunga.

Walter Pehowich, executive vice president of investment service Dillon Gage Metals mengatakan, pasar emas masih dalam kondisi menurun. Hal ini merupakan hal yang tidak biasa. “Saat ini adalah kondisi wait and see untuk melihat musim pemilihan tengah periode di AS pada November mendatang,” kata dia.

Source : kontan.co.id