KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas hari ini masih turun. Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (4/9) pukul 11.44 WIB, harga emas spot berada di US$ 1.542,67 per ons troi, turun 0,29% dibanding penutupan kemarin US$ 1.547,10 per ons troi.

Sementara harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) juga turun 0,26% menjadi US$ 1.551,80 per ons troi.

Menurut laporan bloomberg Rabu (4/9) harga emas bisa melonjak di atas US$ 1.600 per ounce karena Federal Reserve memulai kuartet penurunan suku bunga untuk memerangi perlambatan pertumbuhan AS dan dampak dari perang perdagangan dengan China, menurut BNP Paribas SA, yang menandai prospek kenaikan harga yang signifikan di AS. beberapa bulan mendatang.

BNP Paribas SA memprediksi harga emas dunia akan melonjak ke atas level US$ 1.600 per troy ounce. Melansir Bloomberg, prediksi itu didasarkan pada kemungkinan dilakukannya pemangkasan suku bunga acuan sebanyak empat kali lagi oleh The Federal Reserve untuk mengatasi perlambatan dan penurunan ekonomi akibat perang dagang dengan China. BNP Paribas juga meramal, emas akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan ke depan.

Menurut Harry Tchilingurian, head of commodity research BNP Paribas dalam risetnya, harga emas akan mendapatkan keuntungan seiring langkah The Fed untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin selama empat kali antara bulan September hingga Juni 2020. “Seiring turunnya tingkat yield dalam setiap pemangkasan suku bunga, suku bunga riil akan bergerak dan bertahan di teritori negatif, sehingga meningkatkan pamor emas,” urainya seperti yang dikutip Bloomberg.

Harga emas sudah melonjak tinggi di sepanjang tahun ini akibat meningkatnya permintaan aset-aset haven karena perang dagang AS-China memukul pertumbuhan ekonomi global. Hal itu juga mendorong bank sentral dunia, termasuk the Fed, untuk mengadopsi kebijakan yang lebih akomodatif.

Pada Juli, penentu kebijakan di AS memangkas biaya pinjaman untuk kali pertama dalam sepuluh tahun terakhir. The Fed diprediksi akan melakukan langkah yang sama pada pertemuan rutinan mereka yang akan digelar pada 17-18 September mendatang. Seiring dengan itu, investor sudah menaikkan kepemilikannya atas exchange traded fund (ETF) emas.

“Perang dagang sepertinya belum akan diselesaikan dengan cepat. Dalam konteks ini, emas kembali berfungsi sebagai aset-aset safe haven dan kepemilikan ETF saat ini mengalami peningkatan ke level tertinggi sejak 2012,” jelas Tchilinguirian.

Prediksi harga dinaikkan

Dalam risetnya, BNP melihat, harga rata-rata emas akan berada di level US$ 1.400 per troy ounce pada 2019. Prediksi tersebut naik US$ 60 dibanding prediksi sebelumnya. Sementara, harga rata-rata emas di 2020 akan mencapai US$ 1.560 per troy ounce. BNP Paribas juga memprediksi, pelonggaran kebijakan yang diterapkan The Fed akan mendorong harga rata-rata emas ke atas US$ 1.600 pada kuartal pertama 2020. “Kami memprediksi harga emas akan naik secara signifikan,” tambahnya.

Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, harga emas di pasar spot diperdagangkan di level US$ 1.544,32 per troy ounce pada transaksi Rabu pagi di perdagangan Asia. Dengan demikian, sepanjang tahun ini, harga emas sudah melonjak 20%. Harga emas bertengger di posisi tertingginya sejak 2013 pada 26 Agustus lalu, tepatnya di level US$ 1.555,07 per troy ounce.

Source : kontan.co.id