PT KP PRESS – Harga emas turun pada penutupan perdagangan Rabu atau Kamis dini hari tanggal 5 Desember 2019 waktu Jakarta. Penurunan harga emas ini terjadi setelah adanya kemajuan dalam pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

KONTAK PERKASA FUTURES – Dengan adanya sentimen tersebut, pelaku pasar mulai memburu kembali aset-aset berisiko seperti saham dan meninggalkan emas.

PT KONTAK PERKASA – Mengutip CNBC, Kamis (5/12/2019), harga emas di pasar spot tergelincir 0,3 persen ke level USD 1.472,26 per ounce. Di awal sesi, harga emas sempat menyentuh angka USD 1.484 per ounce yang merupakan level tertinggi sejak 7 November.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Sedangkan untuk harga emas di pasar berjangka AS mengalami penurunan 0,3 persen juga ke level USD 1.480,2 per ounce. Perkembangan terbaru dalam perang dagang membuat harga emas mengalami tekanan dan menghapus kenaikan yang telah dicetak sebelumnya.

PT KP PRESS – Kepala Perdagangan U.S. Global Investors Michael Matousek menjelaskan, Washington dan Beijing bergerak lebih maju untuk menyepakati jumlah tarif baru.

KONTAK PERKASA FUTURES – “Hal ini membuat harga emas berjangka turun dan ekuitas mulai menguat kembali,” kata dia.

PT KONTAK PERKASA – Laporan baru tersebut muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan perjanjian perdagangan mungkin tertunda sampai Pemilu AS yang akan dilaksanakan pada November 2020.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Sebelumnya dengan adanya pernyataan dari Trump tersebut membuat investor melakukan aksi jual cepat di ekuitas global, dan mendorong emas naik lebih dari 1 persen.

“Ini sangat menarik untuk dilihat. Pasar mencari informasi yang dapat diandalkan mengenai pembicaraan tarif, lebih dari apa pun,” kata George Gero, Direktur Pelaksana RBC Wealth Management.

Emas sebagai instrumen lindung nilai diuntungkan dengan adanya ketidakpastian perdagangan antara AS dengan China. Hal tersebut mendorong harga emas naik 15 persen sepanjang tahun ini.

Emas juga menemukan sedikit dukungan dari proyeksi ekonomi yang lebih lemah dari Amerika Serikat, dengan data menunjukkan pengusaha swasta menambahkan pekerjaan paling sedikit dalam enam bulan pada bulan November.

Source : liputan6.com