KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas melonjak pada perdagangan Jumat (3/5), bergerak lebih jauh dari level terendah empat bulan pada sesi sebelumnya. Pelemahan dollar Amerika Serikat (AS) telah mengangkat pamor si kuning.

Mengutip Bloomberg, pukul 22.37 WIB, harga emas di pasar spot naik 0,78% ke level US$ 1.280,65 per ons troi. Sekaligus berada pada jalur persentase kenaikan terbesar sejak 8 Maret.

Pada sesi sebelumnya, emas turun menjadi US$ 1.265,85, terendah sejak akhir Desember.

“Pemantulan yang kami lihat adalah karena logam tersebut oversold, dan ada pembelian teknis yang masuk sekarang,” kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Indeks dollar turun 0,2% setelah rilis PMI sektor jasa, yang jatuh ke level terendah sejak Agustus 2017 bulan lalu. Greenback yang lebih lemah membuat emas batangan lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.

Emiten logam dan mineral kompak mencatatkan kinerja yang moncer di kuartal I-2019. Stabilnya nilai tukar rupiah, bahan baku serta harga komoditas membuat laba dan pendapatan yang diraih emiten logam dan mineral menjadi optimal.

PT Timah Tbk (TINS), membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih sebesar Rp 301 miliar di kuartal I-2019, naik hampir enam kali lipat dibandingkan pencapaian di kuartal I-2018 sebesar Rp 55 miliar, dengan pendapatan usaha tumbuh sebesar 108% yoy per tahun.

Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Amin Haris mengatakan, kenaikan pendapatan usaha TINS di kuartal I-2019 didominasi oleh penjualan logam timah. Harga emas. Penjualan logam timah selama kuartal I-2019 mencapai 12.553 metrik ton, atau naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan kuartal I-2018 sebesar 5.801 metrik ton.

“Selama kuartal I-2019, penjualan logam timah termasuk tin solder mencapai 92,3% dari total pendapatan usaha,” ujar Amin kepada Kontan.co.id, Jumat (3/5).

Sementara itu, produksi logam meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 16.302 metrik ton selama kuartal I-2019 dibandingkan dengan kuartal I 2018 sebesar 5.361 metrik ton. Adapun target TINS tahun ini produksi logam dapat tumbuh hingga dua kali lipat di akhir tahun 2019. Dengan pencapaian saat ini, TINS sudah sejalan dengan target yang ditetapkan.

Berkat kinerja yang moncer tersebut, saham TINS secara year to date (ytd) sudah melesat hingga 73,51% ke level Rp 1.310 per saham.

Seakan tak ingin kalah, emiten logam yakni PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) atau Spindo mencetak kinerja positif di kuartal I-2019. Laba Spindo naik 85,3% yoy menjadi Rp 21,67 miliar, naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp 11,69 miliar. Harga emas. Raihan laba tersebut terdorong dari tumbuhnya pendapatan 9,65% yoy menjadi Rp 1,22 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 1,12 triliun.

Lebih lanjut, khusus untuk penjualan ekspor, tumbuh hingga 135,08% yoy menjadi Rp 85,00 miliar sedangkan tahun sebelumnya hanya sebesar Rp 62,92 triliun.

Johannes Edward, Investor Relations PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk mengatakan, untuk kuartal II-2019 diprediksi masih akan tumbuh sesuai target yakni di kisaran 20%.

Terkait isu harga bahan baku di tahun sebelumnya, sudah dapat teratasi sehingga pihaknya optimistis tahun 2019 akan tumbuh sesuai rencana.

“Di kuartal II-2019 akan sedikit terkendala dari pengiriman saja, karena masuk lebaran. Tapi dari volume penjualan masih akan sesuai target,” ujar Johannes, Jumat (3/5).

Selain itu pihaknya tengah mengkaji untuk menerbitkan obligasi global hingga US$ 200 juta. Namun sementara ini masih akan menunggu sembari melihat perkembangan di pasar global. “Masih menunggu arah The Fed juga. Kita lihat timing setelah kuartal II 2019 terutama kondisi nilai tukar. Kepastiannya belum ada, akan ada fase proses,” ujarnya.

Berkat kinerja moncer tersebut, saham ISSP turut terdongkrak hingga 22,62% ytd ke level Rp 103 per saham.

Sedikit berbeda, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) justru mencatatkan kinerja yang belum maksimal di kuartal I-2019. Emiten tambang emas ini mencatatkan pertumbuhan penjualan 8,52% yoy menjadi Rp 6,2 triliun. Dari sisi laba bersih harus turun 30,12% yoy menjadi Rp 171,66 miliar.

Adanya beban usaha yang meningkat 35,36% yoy menjadi Rp 730,39 miliar menjadi salah satu penyebab turunnya laba emiten emas ini. Harga saham ANTM masih tumbuh 3,27% ytd ke level Rp 790 per saham.