PT KONTAK PERKASA – Harga emas merangkak turun dalam tiga hari berturut-turut. Kamis (1/3) pukul 7.45 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2018 di Commodity Exchange tergerus 0,01% ke level US$ 1.317,70 per ons troi.

Dalam tiga hari terakhir, harga emas turun hingga 1,13%. Dari tiga hari penurunan, koreksi terbesar adalah hari Selasa. Saat itu, penurunan harga emas terjadi akibat pernyataan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga acuan bisa lebih dari tiga kali tahun ini.

“Meski dollar menguat dan imbal hasil US Treasury lebih tinggi, harga emas mulai jenuh jual, dan ada potensi pemulihan sedikit,” kata Walter Pehowich, executive vice president of investment service Dillon Gage Metals kepada Reuters.

Penurunan harga emas dalam dua hari terakhir cenderung tipis. “Untuk jangka panjang, kami melihat potensi kenaikan harga akan berasal dari inflasi AS dan volatilitas pasar saham,” kata Evan Metcalf, director of portfolio management ETF Securities.

Meski masih akan menghadapi testimoni lanjutan Ketua The Fed Jerome Powell pada Kamis (1/2) nanti, tetapi pergerakan harga emas ditopang sentimen positif. Ketidakpastian geopolitik yang kemungkinan akan terjadi pada akhir pekan ini diyakini masih mampu menyokong posisi emas. Bahkan, testimoni kedua Powell diprediksi akan cenderung diabaikan investor.

“Pekan ini ada beberapa peristiwa yang bisa mendorong harga emas naik,” ujar Alwi Asegaff, analis PT Global Kapital Investama Berjangka, Rabu.

Peristiwa yang dimaksud adalah pidato Perdana Menteri Inggris Theresa May pada akhir pekan ini, dan pemilu di Italia pada 4 Maret. Kekhawatiran terjadinya proses hard Brexit kembali mencuat. Diharapkan pidato May bisa memberi kepastian hubungan Inggris dan Uni Eropa setelah proses Brexit.

Kemudian dari Italia, salah satu peserta pemilu, Five Star Movement dikenal sebagai partai yang anti Uni Eropa. Meski basis suaranya tidak terlalu tinggi tetapi dikhawatirkan partai tersebut bisa menyuarakan opsi keluarnya Italia dari Uni Eropa.

“Kalau isu ini terus mencuat, tingkat ketidakpastian akan meningkat,” papar Alwi.

Deddy Yusuf Siregar, analis PT Asia Tradepoint Futures menilai, tidak akan ada yang berubah dari testimoni kedua Ketua The Fed Jerome Powell. Mendekati akhir pekan ini unsur ketidakpastian lebih berpengaruh untuk meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Ketidakpastian di bursa saham, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) yang mendekati level 3% dan beberapa peristiwa politik diyakini bisa menjadi sentimen positif bagi emas.

Selain kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral yang mulai meredup, menurutnya permintaan emas fisik juga tidak lagi terlalu banyak berpengaruh. Meski saat Imlek pada Februari terjadi kenaikan impor emas China hingga 65,2%, tetapi kini diperkirakan tingkat permintaan akan melemah.

“Pasar melihat pengaruh unsur ketidakpastian lebih besar,” imbuh Deddy.

Mengutip Bloomberg, Rabu (28/2) pukul 16.55 WIB, harga emas kontrak pengiriman April 2018 naik 0,22% ke level US$ 1.321,50 per ons troi. Bahkan dibandingkan pekan sebelumnya, harganya masih menguat 0,80%.

Source : kontan.co.id