PT KONTAK PERKASA FUTURES Harga emas pagi ini naik. Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (25/7) pukul 09.13 WIB, harga emas spot berada di US$ 1.485,33 per ons troi.

Harga itu naik 0,74% dibandingkan harga emas pada penutupan kemarin di angka US$ 1.474,42 per ons troi.

Sedangkan harga harga emas untuk pengiriman Desember 2019 di Commodity Exchange di angka US$ 1.499,60 per ons troi. Harga emas ini naik 1.04% ketimbang harga kemarin pada US$ 1.484,20 per ons troi.

“Ada banyak ketidakpastian dalam hal pertumbuhan ekonomi, terutama terkait perang dagang Amerika Serikat dan China. Mengingat kenaikan volatilitas di AS dan pasar global, emas mendapatkan penopang,” kata Jeff Klearman, portfolio manager GraniteShares kepada Reuters.

Kekacauan pasar global sedikit mereda setelah China menstabilkan mata uang yuan setelah melemah ke 7 per dolar AS. Stabilisasi ini dilakukan setelah AS menyebut China sebagai manipulator mata uang. Bank sentral China menyebut keputusan AS ini sangat merusak ketertiban keuangan internasional dan menyebabkan kekacauan di pasar keuangan.

Goldman Sachs mengatakan tidak lagi berharap AS dan China menyetujui gencatan senjata sebelum pemilihan presiden AS pada November 2020 mendatang.

“Banyak pengamat pasar sekarang memperhitungkan perang dagang bergerak ke level selanjutnya ini akan memicu Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga lagi segera,” kata Jim Wyckoff, analis senior KitcoMetals dalam catatan.

Harga emas futures reli ke atas level US$ 1.500 per troy ounce pada transaksi Rabu (7/8). Mengutip data Bloomberg, pada pukul 09.13 waktu Singapura, harga kontrak emas di pasar spot melaju 1,1% menjadi US$ 1.500,40 per troy ounce di Comex, New York. Ini merupakan level tertinggi sejak 2013.

Dengan demikian, sepanjang tahun ini, harga emas sudah melonja 17%, seiring adanya inflows ke exchange-traded funds oleh investor.

Emas merupakan salah satu alat investasi yang paling diuntungkan dari adanya guncangan di pasar finansial global akibat perang dagang antara Washington dan Beijing. Dalam beberapa hari terakhir, pemerintahan Trump mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap barang-barang China.

Di sisi lain, China seakan ‘membiarkan’ yuan melemah. Alhasil, AS menuding China sebagai manipulator mata uang. Pertikaian ini semakin mendorong diberlakukannya pelonggaran kebijakan oleh The Federal Reserve.

“Permintaan investor untuk aset-aset safe haven semakin tinggi, harga emas semakin mahal,” jelas Australia & New Zealand Banking Group Ltd seperti yang dikutip oleh Business Times.

Selain trade war, ada juga risiko lain yang harus dihadapi investor. Di Eropa, investor memantau kemungkinan terjadinya Brexit tanpa perjanjian pada tahun ini. Di belahan dunia lain, ada juga kecemasan yang terjadi di Timur Tengah antara Iran dan AS.

Source : kontan.co.id