PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas naik masih kuat menanjak dalam tiga hari berturut-turut hingga pagi ini. Kamis (26/7) pukul 7.36 WIB harga emas untuk pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange naik 0,12% ke US$ 1.242,30 per ons troi.

Kenaikan harga emas ini dipicu oleh koreksi dollar Amerika Serikat (AS) setelah AS dan Eropa menurunkan tensi perang dagang. Indeks dollar yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia, turun ke 94,17.

Indeks dollar turun dalam tiga hari terakhir, berkebalikan dengan pergerakan harga emas. “Ada peluang bagi dollar untuk sedikit melonggar yang mendorong kenaikan harga emas. Tapi, rally harga emas kemungkinan akan sulit terjadi,” kata Marcus Garvey, commodity strategist ICBC Standard Bank kepada Reuters.

ICBC memperkirakan, harga emas akan bergerak pada rata-rata US$ 1.260 per ons troi dan rata-rata US$ 1.300 per ons troi di kuartal keempat nanti.

Harga emas naik tipis pada pertengahan pekan ini. Rabu (25/7) pukul 7.51 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange naik tipis 0,08% ke US$ 1.235,40 per ons troi.

Level terendah harga emas di tahun ini adalah US$ 1.234 per ons troi pada Kamis pekan lalu. Harga emas naik mengantispiasi data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis Jumat pekan ini.

Harga emas menguat di tengah penurunan indeks dollar dalam dua hari terakhir. “Dollar juga memposisikan diri menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi,” kata Josh Graves, senior commodities strategist RJO Futures kepada Reuters.

Pasar memperkirakan, pertumbuhan ekonomi AS kuartal kedua akan melewati prediksi 4,1%. “Tapi, jika ada kejutan buruk, harga emas akan melonjak,” kata Graves.

Meski naik dalam dua hari berturut-turut, harga emas masih bergerak di sekitar level terendah tahun ini. Harga tertinggi emas 2018 adalah US$ 1.390,40 per ons troi pada 25 Januari. Harga emas turun 7,81% secara year to date.

“Terlalu awal untuk menganggap harga emas sudah mencapai level terendah. Tapi ada sinyal yang menunjukkan hal itu,” kata Carsten Fritsch, commodity analyst Commerzbank.

Source : kontan.co.id