PT KP PRESS – Harga emas naik, ditopang kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Harga emas terus melanjutkan rally sejak pekan lalu. Senin (10/2) pukul 07.45 WIB, harga emas untuk pengiriman April 2020 di Commodity Exchange ada di US$ 1.576,70 per ons troi, naik 0,21% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 1.573,40 per ons troi.

KONTAK PERKASA FUTURES – Kenaikan harga emas ditopang oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi akibat merebaknya wabah virus corona dan suku bunga yang lebih rendah secara global mengimbangi data ekonomi AS yang kuat.

PT KONTAK PERKASA – “Pasar tampaknya lebih khawatir tentang wabah virus corona di China,” kata Tai Wong, kepala perdagangan derivatif logam dasar dan mulia di BMO seperti dikutip Reuters.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – “Reaksi tajam, cepat, dan berlawanan dengan emas sangat jelas. Ada permintaan yang baik dalam menghadapi sinyal ekonomi yang sangat kuat.”

Data menunjukkan data non farm payroll AS meningkat 225.000 pekerjaan pada Januari 2020, lebih tinggi dari prediksi para ekonom yang disurvei Reuters yang sebesar 160.000 pekerjaan.

Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA mengatakan, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian seputar virus corona membuat emas tetap terdorong naik.

Harga emas bisa menyentuh US$ 1.600 per ons troi dalam waktu dekat

Sepanjang Januari 2020 harga komoditas emas masih mencatatkan kinerja positif dengan mencatatkan pertumbuhan 3,52% di level US$ 1.587,90 per ons troi dan semakin mendekati level psikologis di area resistance.

Mengutip Bloomberg, pergerakan harga emas di Commodity Exchange (Comex) pada perdagangan Jumat (7/2) tercatat menguat 0,22% ke level US$ 1.573,40 per ons troi.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengakui pergerakan emas Januari 2020 cukup positif. Bahkan, tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat harganya akan menyentuh level psikologis US$ 1.600 per ons troi.

“Mungkin di kuartal pertama atau kuartal kedua tahun ini, harga emas berpotensi menyentuh level psikologisnya,” jelas Alwi kepada Kontan, Minggu (9/2).

Menurutnya, penguatan emas yang terjadi di awal tahun tidak lepas dari sentimen panas yang terjadi di awal tahun. Pertama, terkait kesepakatan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang berhasil dicapai awal tahun ini.

Teranyar, China juga telah memangkas tarif impor sebanyak US$ 75 miliar terhadap barang-barang AS.

Selain itu, investor cenderung memilih safe haven di tengah ketidakpastian kondisi global. Terutama sejak kabar penyebaran virus corona yang saat ini telah memakan korban jiwa hingga ratusan orang di lebih dari 20 negara.

Alhasil, ekonomi terbesar kedua di dunia yakni China juga berpotensi tertekan bahkan diramalkan bakal di bawah 5%.

Kedua, tren suku bunga rendah juga masih dipertahankan oleh bank-bank sentral di dunia. Upaya tersebut diharapkan mampu memberikan stimulus bagi perekonomian, sekaligus mengatasi risiko pelambatan ekonomi global.

Ini tampak dari sikap Bank Sentral AS (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) yang baru-baru ini memberikan sinyal akan menjaga suku bunga acuan berada di level rendah.

“Beberapa sentimen tersebut bakal berdampak sistemik bagi ekonomi global, ditambah sentimen Inggris yang baru keluar dari Uni Eropa (UE) atau Brexit,” tegasnya.

Namun, kemilau emas pantang redup meskipun pergerakan indeks saham meningkat, begitu juga dengan dollar AS yang terus menguat. Investor masih menilai emas jadi pilihan utama safe haven di tengah ketidak pastian saat ini.

Alwi memperkirakan pergerakan emas bakal berada di rentang US$ 1.500 per ons troi hingga US$ 1.640 per ons troi.

Source : kontan.co.id