PT KONTAK PERKASA – Di tengah gejolak pasar saham global, harga emas pagi ini mendaki. Harga emas Kamis (25/10), untuk pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange naik 0,66% ke level 1.239 per ons troi dari posisi kemarin 1.231,1 per ons troi.

Padahal di perdagangan kemarin, Rabu (24/10), harga emas turun US$ 5,7 per ons troi dibandingkan hari sebelumnya karena penguatan indeks dollar AS. Namun sejak awal pekan ini, harga emas cenderung menguat 1,17%.

“Kami melihat masih ada risiko di pasar, tapi tidak sebesar kemarin, dan ada kenaikan indeks dollar AS yang bisa menjadi tekanan ke emas,”ujar Kitco Metals, analis senior Jim Wyckoff.

Saat ini, bursa saham global tengah dilanda aksi jual yang membuat saham-saham teknologi terkapar. Hal ini pun bisa berdampak pada pergerakan harga emas selanjutnya.

Tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia boleh saja bertahan di level 5,75%, tetapi para investor tetap harus waspada karena suku bunga acuan sewaktu-waktu masih bisa naik. Belum lagi, pasar keuangan Indonesia masih bergejolak. Sejumlah instrumen pun bisa menjadi pilihan investor ketika menghadapi berbagai sentimen tersebut.

Direktur Utama Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan, terlepas dari hasil Rapat Dewan Gubernur BI hari ini, instrumen seperti reksadana pasar uang tetap akan tetap diuntungkan dan bisa menjadi pilihan bagi investor. Sebab, biar bagaimanapun saat ini Indonesia tengah berada di era suku bunga tinggi, sehingga kinerja instrumen ini biasanya akan meningkat.

Sentimen tersebut sejauh ini terbukti. Hingga akhir September, kinerja rata-rata reksadana pasar uang yang tercatat di Infovesta Money Market Fund Index tumbuh 2,96% (ytd). Padahal, kinerja rata-rata reksadana lainnya masih berada di level minus pada periode yang sama.

Senada, Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto menyampaikan, ruang kenaikan suku bunga acuan di akhir tahun dan di tahun berikutnya masih cukup terbuka. Di saat yang sama, suku bunga deposito juga berpotensi naik walau tingkat kenaikannya cukup bergantung pada likuiditas masing-masing perbankan.

Dengan demikian, investor yang memilih reksadana pasar uang dengan deposito sebagai aset portofolionya akan diuntungkan karena berpotensi mencetak kinerja mentereng.

Bagi investor yang ingin berinvestasi jangka panjang, instrumen berbasis saham tetap bisa menjadi pilihan di kala suku bunga acuan berada di level yang tinggi. Apalagi, harga sejumlah saham sudah tergolong murah.

Rudiyanto menyarankan, investor dapat mulai membeli saham-saham yang sudah terkoreksi cukup dalam namun dari sisi fundamental masih positif. Selain itu, investor juga bisa memilih saham-saham berkapitalisasi kecil hingga menengah yang sejauh ini tidak terlalu terpapar sentimen negatif di pasar saham.

“Namun, karena masih ada ketidakpastian pasar, sebaiknya pembelian saham dilakukan secara berkala saja,” tambahnya, Selasa (23/10).

Jemmy juga sepakat bahwa instrumen berbasis saham masih memiliki prospek yang cerah. Sebab, akhir tahun biasanya indeks akan rally akibat aksi window dressing yang dilakukan emiten. Dengan demikian, kinerja instrumen ini berpotensi meningkat kendati tekanan eksternal belum tentu mereda.

Di sisi lain, Eko Endarto, Perencana Keuangan Finansia Consulting menyebut, sentimen window dressing pada akhir tahun nanti terkesan spekulatif. Hal ini mengingat masih banyak sentimen negatif dari eksternal yang mempengaruhi kinerja pasar saham Indonesia hingga akhir tahun nanti. “Jadi, untuk saat ini lebih baik investor pilih instrumen yang pasti-pasti saja,” imbuhnya.

Eko menilai tidak ada salahnya investor memilih emas sebagai alternatif di tengah era suku bunga acuan tinggi dan ketidakpastian pasar yang masih terjadi. “Emas masih layak dijadikan safe haven untuk kebutuhan jangka menengah walau tren harganya sedang turun,” tandasnya.

Source : kontan.co.id