PT KONTAK PERKASA – Meski terdepak turun mendekati US$ 1.300 per ons troi, harga emas masih berupaya bangkit. Senin (7/5) pukul 7.50 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2018 di Commodity Exchange naik 0,17% ke level US$ 1.317 per ons troi.

Harga emas naik dalam tiga hari perdagangan berturut-turut dari level terendah sepajang tahun 2018 yang terjadi Rabu pekan lalu. Harga emas terus turun ke US$ 1.305,60 per ons troi Rabu lalu.

Harga emas pekan lalu merupakan level terendah tahun 2018. Harga emas hari ini pun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan harga rata-rata sepanjang 2018 yang ada di US$ 1.335,96 per ons troi.

Harga emas yang lebih murah mendorong kenaikan permintaan di India. Permintaan emas fisik pekan lalu meningkat. “Para produsen perhiasan lebih nyaman membeli di sekitar harga US$ 1.300. Mereka kembali membeli emas setelah persediaan menipis,” kata diler komoditas di Mumbai kepada Reuters.

Di kuartal pertama tahun ini, permintaan emas India turun 12% ketimbang periode yang sama tahun lalu menjadi 115,6 ton. Data World Gold Council ini menunjukkan angka permintaan terendah dalam 10 tahun terakhir.

“Setelah harga turun, permintaan membaik. Pembeli ritel mulai membeli emas untuk pernikahan,” kata Harshad Ahmera, pemilik grosir JJ Gold House di Kolkata.

Permintaan emas menurun. Menurut World Gold Council, penurunan ini karena harga emas yang bergerak stagnan dan ancaman kenaikan suku bunga. Dus, investor memilih mencari lahan investasi yang menawarkan imbal hasil lebih baik di tahun ini.

Permintaan emas global tercatat turun 7% menjadi 973,5 ton pada periode Januari-Maret 2018. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak 2008. Ini juga berkaitan dengan masa tenang pasar emas yang telah bertahan di kisaran sempit di setiap kuartal dalam satu dekade terakhir.

“Harga emas yang membumbung tentu memiliki efek pada sentimen investor,” ujar Kepala Intelijen Pasar WGC Alistair Hewitt seperti dikutip Reuters. Kondisi ini berefek di dua arah. Yakni bagi ritel penurunan harga bisa menjadi titik masuk. Tapi saat harga naik, orang ingin memanfaatkan momentum tersebut untuk menjual emas.

Penurunan permintaan terbesar berasal dari sektor investasi. Penjualan emas bar dan koin tercatat turun 15%.

Konsumsi perhiasan emas juga menyusut 1% di periode kuartal I 2018. Pembeli di India sebagai konsumen perhiasan emas terbesar kedua setelah China juga membukukan penurunan pembelian yakni turun 12% pada kuartal I 2018 menjadi kurang dari 88 ton. Penurunan ini juga yang terbesar dalam satu dekade.

“Pelemahan rupee benar-benar mendorong harga emas lokal,” kata Hewitt seperti dikutip Reuters. Beberapa orang pun menurunkan pembelian emas. Dia mencontohkan, di kuartal I tahun lalu, konsumen bisa memiliki 22 perhiasan. Pada kuartal I-2018 baru memiliki tujuh perhiasan.

Permintaan perhiasan justru meningkat di China sebesar 7% menjadi 188 ton. Namun, permintaan koin emas dan bar emas di Negeri Tembok Besar menurun 26%. Peningkatan permintaan emas datang dari bank sentral yakni sebesar 42%.

Rusia merupakan negara pembeli emas terbesar di dunia. Permintaan dari Rusia sepertiganya berasal dari permintaan bank sentral. Turki dan Kazakhstan juga menambah cadangan emas mereka di kuartal I tahun ini.

Di sisi lain, pasokan dari penambangan emas tumbuh 1% secara tahunan menjadi 770 ton. Ditambah ada hasil dari lindung nilai produsen emas yang membantu mengangkat pasokan emas secara keseluruhan sebesar 3% menjadi 1.063,5 ton.

Source : kontan.co.id