KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas semakin suram. Sempat menembus US$ 1.310 per ons troi pada pekan lalu, hari ini harga emas turun di bawah US$ 1.290.

Selasa (16/4) pukul 7.52 WIB, harga produk emas untuk pengiriman Juni 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.289,60 per ons troi, turun 0,13% dari harga kemarin pada US$ 1.291,30 per ons troi. Ini adalah harga terendah emas sejak 27 Desember 2018.

“Pada umumnya, investor sedang tidak berminat terhadap emas, mereka tidak melihat potensi naik yang banyak pada komoditas ini,” kata Miguel Perez Santalla, vice president Heraeus Metal Management kepada Reuters.

Akhir pekan lalu, menteri keuangan Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa AS dan China makin mendekati putaran akhir negosiasi dagang. Selain kabar ini, data manufaktur yang membaik, serta data ekspor impor yang menguat dari kedua negara ini turut menyebabkan investor meninggalkan emas sebagai aset aman.

“Harga produk emas mendekati level support US$ 1.280. Investor mengantisipasi jika harga emas turun ke level ini dan pembeli masuk lagi, maka akan menciptakan bottom jangka pendek. Ini akan menjadi peluang mengejar emas,” kata Michael Matousek, head trader US Global Investors.

Matousek menambahkan, volume transaksi emas pekan ini akan melambat dengan fluktuasi harga yang lebih volatile karena hanya ada sedikit partisipan pasar.

Harga emas yang merosot pada perdagangan kemarin memicu aksi beli pada hari ini. Rabu (17/4) pukul 9.24 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.279,60 per ons troi. Harga emas ini naik 0,19% dalam sehari.

Kemarin, harga produk emas turun 1,09% jika ke level US$ 1.277,20 per ons troi yang merupakan harga terendah tahun ini. Dalam empat hari penurunan berturut-turut, harga emas melorot 2,79%.

“Alasan utama penurunan harga emas adalah perbaikan data ekonomi. Misalnya data ekonomi China yang mulai membaik,” kata Dominic Schneider, analis UBS Wealth Management kepada Reuters.

Pekan lalu, China melaporkan angka ekspor dan impor yang membaik pada kuartal pertama. Data ekonomi ini menurunkan kekhawatiran perlambatan ekonomi.

Data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) pekan lalu juga mengangkat minat pasar sehingga menurunkan permintaan safe haven. “Hal lain yang menekan harga emas adalah imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun yang mulai naik,” kata Schneider.

Negosiasi dagang antara AS dan China yang diramal segera menyentuh garis finish pun menyebabkan pasar melepas aset emas. Tapi, pasar komoditas masih menunggu data pertumbuhan ekonomi China dan Zona Euro yang akan memperkuat sinyal arah ekonomi global.

Source : kontan.co.id