PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas tergerus setelah mencoba menembus resistance kuat di level US$ 1.360 per ons troi pada perdagangan kemarin. Kamis (12/4) pukul 8.11 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2018 di Commodity Exchange turun tipis 0,33% ke level US$ 1.355,5 per ons troi.

Kemarin, harga emas melonjak 1,05% jika dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Dalam empat hari kenaikan hingga kemarin, harga emas melonjak 2,37%.

Harga emas sempat melonjak hingga level US$ 1.365,23 per ons troi pada perdagangan intraday kemarin sebelum akhirnya tergerus pada penutupan perdagangan. Harga emas naik akibat kekhawatiran tensi geopolitik Suriah.

Tapi, harga terkoreksi setelah notulen rapat Federal Reserve menunjukkan optimisme ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat. Seluruh pejabat The Fed yakin bahwa ekonomi AS akan menguat dan inflasi naik dalam beberapa bulan ke depan.

“The Fed terus mempertahankan posisi hawkish dan mereka yakin bahwa tarif impor baja dan aluminium tidak akan berpengaruh besar pada outlook ekonomi,” kata Shree Kargutkar, portfolio manager Sprott Asset Management kepada Reuters.

Sejak rapat kenaikan suku bunga Maret lalu hingga kini, para pejabat The Fed dalam mode wait and see atas kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump. The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan 1-2 Mei mendatang. Kenaikan suku bunga diramal terjadi lagi bulan Juni.

Kenaikan harga emas di pekan ini terutama dipicu oleh permintaan safe haven seiring tensi Suriah yang memanas. “Tensi Suriah dan pelemahan dollar AS menjadi pendorong kenaikan harga emas,” kata David Meger dari High Ridge Futures.

Harga emas hari ini masih lebih rendah jika dibandingkan posisi tertinggi sepanjang 2018 yang terjadi 25 Januari lalu. Saat itu, harga emas ditutup pada level US$ 1.373,40 per ons troi.

Presiden Amerika Serikat (AS). Donald Trump mengatakan kepada para penasihat seniornya bahwa ia ingin AS keluar dari Suriah. Sikap yang mungkin membuatnya bertentangan dengan para pejabat militer AS yang melihat perang melawan ISIS belumlah selesai.

Mengutip Reuters, Jumat (30/3), Trump telah menginstruksikan Departemen Luar Negeri AS untuk menahan dana US$ 200 juta yang rencana akan digunakan untuk pemulihan daerah-daerah di Suriah yang direbut dari ISIS. Pejabat senior Gedung Putih mengungkapkan, pemerintahan Trump ingin mengevaluasi kembali peran AS dalam konflik Suriah. Dana tersebut diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Rex Tillerson pada bulan Februari pada pertemuan di Kuwait tentang koalisi global melawan Negara Islam.

Keputusan untuk membekukan dana itu sejalan dengan deklarasi Trump selama pidato di Richfield, Ohio, pada hari Kamis (29/3), dimana dia mengatakan sudah waktunya bagi Amerika untuk keluar dari Suriah.

“Sejalan dengan instruksi presiden, Departemen Luar Negeri AS akan terus mengevaluasi kembali tingkat bantuan yang sesuai dan bagaimana cara terbaik bantuan tersebut dapat dimanfaatkan,” ujar juru bicara US National Security Council, dilansir dari Reuters.

Dalam pidatonya di Richfield, Trump berulang kali mengungkapkan keinginannya agar AS meninggalkan Suriah secepatnya. Ia memandang AS telah memenangkan perang melawan ISIS dan sudah waktunya bagi AS untuk keluar.

“Biarkan orang lain mengurusnya sekarang, kami akan keluar. Kami akan kembali ke negara kami, di mana kami berada, di mana kami ingin berada,” ujar Trump dalam pidatonya.

Komentar Trump datang ketika Prancis mengatakan pada hari Jumat (30/3) bahwa negara tersebut akan meningkatkan kehadiran militernya di Suriah untuk meningkatkan kampanye yang dipimpin AS.

Sementara itu, Pentagon memperkirakan bahwa ISIS telah kehilangan sekitar 98% dari wilayah yang pernah dimilikinya di Irak dan Suriah. Namun, para pejabat militer AS telah memperingatkan bahwa ISIS dapat memperoleh kembali wilayah-wilayah yang dibebaskan, kecuali mereka distabilkan.

Source : kontan.co.id