KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas spot menguat. Data Bloomberg pada Selasa (27/8) Pukul 14.06 WIB mencatat harga emas US$ 1.533,74 per ons troi atau naik 0,42% dibandingkan penutupan akhir pekan kemarin yang berada di angka US$ 1.527,31 per ons troi. Sedangkan harga emas untuk pengiriman Desember 2019 di Commodity Exchange naik 0,34% ke US$ 1.542,20 per ons troi, setelah kemarin ditutup pas pada US$ 1.537,20 per ons troi.

Menurut laporan Bloomberg, Selasa (27/8) menyatakan bahwa setelah harga emas mengalami roller-coaster pada hari Senin karena investor menimbang perkembangan terbaru dalam perang perdagangan. Harga emas menguat di sesi pembukaan minggu ini karena Presiden Donald Trump mengatakan China ingin membuat kesepakatan pada perdagangan, mengurangi ketegangan.

Trump meninggalkan KTT G-7 dengan mengambil alih Beijing hanya beberapa hari setelah menakuti pasar keuangan dengan eskalasi lain dalam perang dagang mereka. Meski begitu, Trump juga menegaskan bahwa dia tidak meninggalkan taktiknya yang kasar dan kejam untuk memaksa adanya kesepakatan perdagangan di China.

Investor menunggu untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya dalam perang dagang ini, termasuk apakah nantinya akan ada lebih banyak tarif bea impor dimulai pada 1 September atau malah akan ditangguhkan. UBS Group AG memprediksi harga emas dapat mencapai US$ 1.600 dalam tiga bulan.

Masih melaju naik dan kembali menyentuh rekor tertinggi, investor dinilai belum terlambat untuk membeli emas di pasar spot saat ini. Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (27/8) harga emas untuk kontrak Desember 2019 berhasil menyentuh rekor baru yakni US$ 1.541,90 per ons troi atau naik 0,30%.

Di sisi lain, emas pasar spot juga menyentuh rekor tertinggi US$ 1.532,38 per ons troi pukul 19.10 WIB. Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengungkapkan, kenaikan harga emas saat ini, justru lebih mendorong investor untuk lebih banyak mengoleksi emas.

Dengan begitu, diperkirakan hingga akhir tahun bisa berada di level US$ 1.581 per ons troi hingga US$ 1.590 per ons troi. Beberapa sentimen saat ini yang dianggap mampu mendorong harga emas naik seperti semakin melebarnya ketidakjelasan kelanjutan sengketa dagang AS dengan China. Di samping itu, melambatnya aktivitas ekonomi di kawasan Eropa juga mendorong pasar untuk mengoleksi emas.

Ditambah lagi, sentimen mengenai rencana Inggris untuk keluar dari kawasan Uni Eropa (UE) atau dikenal Brexit masih menjadi perhatian pasar. Gejolak lain seperti hubungan dagang Jepang dengan Korea Selatan, dan situasi Timur Tengah bakal turut berkontribusi dalam mendorong harga emas untuk terus naik.

“Melihat situasi saat ini, harga emas tidak terlalu mahal,” jelas Deddy kepada Kontan.co.id. Sementara itu, dari sisi teknikal harga emas global masih bergulir di atas moving average (MA)50, MA100 dan MA200 yang secara keseluruhan mengindikasikan penguatan. Sedangkan untuk indikator RSI berada di area 57 yang juga menunjukkan tren penguatan.

Sedangkan untuk indikator stochastic tercatat masih berada di area 72 yang juga mengindikasikan penguatan. Hal ini diikuti indikator MACD yang juga berada di area positif.

“Namun, di antara semua sentimen yang ada, paling berperan adalah ‘mantra’ Trump, di mana setiap pernyataannya selalu mendapat respons pasar,” ujarnya.

Untuk itu, Deddy menilai semakin meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar maka investor cenderung akan memilih emas dengan intensitas lebih besar, sebagai instrumen investasinya.

“Menurut saya pribadi, emas akan terjatuh jika perjanjian dagang telah ditandatangani oleh kedua negara,” tandasnya.

Source : kontan.co.id