PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas masih terus tertekan setelah lonjakan di awal pekan. Rabu (4/4) pukul 7.59 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2018 di Commodity Exchange turun ke US$ 1.335,40 per ons troi.

Penurunan harga emas sebesar 0,14% dari harga penutupan kemarin di angka US$ 1.337,30 per ons troi. Dalam dua hari perdagangan, harga emas tergerus 0,85% dari US$ 1.346,90 per ons troi.

“Harga emas kembali setelah lonjakan tajam. Seiring positifnya pasar saham, dollar AS pun naik tipis,” kata Fawad Razaqzada kepada Reuters. Dia melihat, potensi rally dollar masih terbuka pekan ini. Data tenaga kerja akan menjadi kunci arah pergerakan dollar. Jika dollar AS menguat, maka harga emas akan turun.

Sejak awal tahun, harga emas diperdagangkan antara level US$ 1.300 hingga US$ 1.360 per ons troi. “Perlu pemicu yang signifikan untuk keluar dari kisaran ini,” kata Jens Pedersen, analis Danske Bank.

Salah satu pemicunya adalah perang dagang yang terus berlanjut. Spekulan memperkirakan, ada 30% peluang harga emas menembus US$ 1.400 per ons troi tahun ini. Tapi, harga perlu menembus resistance kuat di level US$ 1.361,80.

Di antara komoditas logam mulia lain, emas menorehkan  kinerja terbaik sepanjang kuartal pertama 2018. Meski begitu, sejatinya pergerakan harga emas terbilang datar. Tarik menarik sentimen membuat harga logam mulia ini betah bergerak di kisaran US$ 1.300-US$ 1.370.

Mengutip Bloomberg, Kamis (29/3), harga emas kontrak pengiriman Juni 2018 di Commodity Exchange (Comex) ditutup di level US$ 1.327,30 per ons troi. Emas menguat tipis 0,65% sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Logam mulia lain, seperti perak harganya turun 5,5% ke level US$ 17,221 per ons troi. Platinum juga melorot 1,2% menjadi US$ 932,6 per ons troi. Paladium turun paling dalam yaitu sebesar 10,29% ke level US$ 943,8 per ons troi.

Analis Global Kapital Investama Berjangka Alwi Assegaf menilai, harga emas sejauh ini masih didukung perannya sebagai aset lindung nilai (safe haven). Apalagi, sejak isu perang dagang yang dipantik oleh Amerika Serikat (AS) mencuat dan meresahkan para pelaku pasar.

Namun, emas sempat tertekan di kala pasar menantikan keputusan naiknya suku bunga The Federal Reserves awal Maret lalu. Harga emas sempat terhempas hingga ke level terendah sejak awal tahun yaitu US$ 1.311 per ons troi.

“Untungnya, harga emas perlahan menanjak setelah The Fed memberi pernyataan hanya akan mengerek suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini,” ujar Alwi, (2/4). Meski begitu, tetap saja harga emas cenderung terbatas setiap kali mulai mendekati level US$ 1.360-US$ 1.370 di kuartal pertama ini.

Alwi melihat, sentimen perang dagang antara AS dan China maupun dengan negara-negara lainnya masih akan menjadi faktor pendukung untuk harga emas. Malam ini, data purchasing managers’s index (PMI) sektor manufaktur AS akan dirilis.

“Kalau hasilnya lebih buruk, ini bisa jadi pemicu Presiden Trump semakin agresif memberlakukan kebijakan proteksionisme terhadap perdagangan internasional,” paparnya.

Apalagi, masih ada persoalan geopolitik di Timur Tengah antara Arab Saudi dan Iran. Menurut Alwi, isu ini bisa muncul sewaktu-waktu dan kembali menekan indeks dollar. Lantas, emas akan kembali mendapat keuntungan sebagai aset safe haven.

Di sisi lain, harga emas juga masih akan dipengaruhi oleh perkembangan data-data ekonomi AS lainnya, terutama data ketenagakerjaan. Jika data ekonomi AS positif, tak tertutup kemungkinan pasar akan kembali berekspektasi suku bunga The Fed naik hingga empat kali pada tahun ini.

Melihat situasi yang ada, Alwi berpendapat tarik menarik sentimen masih akan berlanjut hingga kuartal kedua 2018. Ia memproyeksi harga emas belum akan meninggalkan area US$ 1.300-US$ 1.365 per ons troi.

Ia memprediksi akhir tahun ini, harga emas juga tidak akan bergerak terlampau jauh. Di tengah minimnya potensi sentimen baru, ia menaksir harga emas akan berada di level US$ 1.280-US$ 1.375 per ons troi.

Source : kontan.co.id