KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas menanjak lagi di awal pekan ini. Senin (13/5) pukul 7.58 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2019 di Commodity Exchange naik 0,12% ke US$ 1.289 per ons troi ketimbang harga akhir pekan lalu pada US$ 1.287,4o per ons troi.

Harga emas menguat dalam tiga hari perdagangan berturut-turut seiring memanasnya negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Dalam sepekan terakhir, harga emas menguat 0,40%.

Jumat (10/5)  lalu, AS menaikkan tarif impor menjadi 25% untuk produk impor China bernilai US$ 200 miliar. Kenaikan tarif ini terjadi di tengah negosiasi yang masih berlangsung.

“Harga emas masih akan naik dalam jangka pendek hingga ada resolusi konkret atas berlanjutnya tendi perdagangan antara AS dan China,” kata Rob Lutts, chief investment officer Cabot Wealth Management kepada Reuters.

Indeks dollar yang turun dalam empat hari perdagangan berturut-turut hari ini pun turut menopang kenaikan harga emas. “Harga emas juga menanjak naik karena ketidakstabilan di pasar saham,”kata Edward Meir, analis FCStone.

Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menaikkan bea impor barang dari China memberikan tekanan pada kondisi market global dan domestik. Saat seperti ini, mencari safe haven menjadi salah satu pilihan bagi investor untuk tetap berinvestasi.

Analis PT Pruton Mega Berjangka Cahyo Dewanto mengatakan, beberapa safe haven yang bisa menjadi pilihan saat ini adalah emas, yen dan swiss franc.

“Untuk jangka pendek dan menengah bisa yen dan swiss franc, mengingat mata uang nilai intrinsiknya tidak ada. Sedangkan untuk jangka panjang, emas bisa jadi pilihan,” kata Cahyo kepada Kontan.co.id, kemarin.

Beberapa alasan menjadi pertimbangan Cahyo dalam merekomendasikan beberapa instrumen safe haven tersebut. Di antaranya, untuk investasi emas dia menilai pergerakannya cukup stabil sebagai safe haven dan zero inflation.

Sementara itu, untuk yen menurutnya merupakan mata uang yang cukup stabil. Kondisi tersebut disertai kebijakan moneter yang konsisten, ditambah lagi, mata uang Negeri Panda ini merupakan yang terkuat di Asia.

Sedangkan untuk mata uang swiss franc, Cahyo menilai cukup menarik dilirik sebagai save haven, didukung sikap bank sentralnya yang sangat independen. “Ekonomi mereka juga cukup stabil. Apalagi Bank Sentral sangat kredibel tanpa melihat latar belakang investor,” tandasnya.

Mengutip Bloomberg, Jumat (10/5), Beijing berjanji membalas jika Trump menindaklanjuti ancamannya menaikkan tarif impor produk China senilai US$ 200 miliar menjadi 25% dari 10%.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengungkapkan, keputusan Trump tersebut sejauh ini memicu kecemasan di kalangan bursa global. Di tengah kondisi tersebut, yen dianggap cukup menarik untuk dilirik sebagai safe haven di jangka pendek ini, sedangkan untuk jangka menengah cenderung masih konsolidasi.

So far ini memicu kecemasan bursa global, stock koreksi, yen menguat signifikan dan harga emas rebound,” kata Wahyu kepada Kontan.co.id, Jumat (10/5).

Adapun untuk prospek swiss franc menurut Wahyu, saat ini masih kurang bertenaga. Meskipun terdapat penguatan, namun masih dalam rentang konsolidasi dan di cenderung kalah dengan yen.

Source : kontan.co.id