KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas cenderung flat bertahan di atas level US$ 1.200 per ons troi. Selasa (4/9) pukul 7.52 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange turun tipis ke US$ 1.205,70 per ons troi dari harga kemarin pada US$ 1.207 per ons troi.

Kemarin, perdagangan komoditas berakhir di pasar Eropa karena pasar AS libur. Harga emas masih bergerak di harga rata-rata sebulan terakhir yang ada di US$ 1.206,20 per ons troi.

Harga tertinggi emas sebulan terakhir adalah US$ 1.223 per ons troi. pada awal Agustus. Setelah itu, harga logam mulia ini cenderung menurun, bahkan sempat menyentuh US$ 1.184 yang merupakan level terendah tahun ini.

Harga emas kembali bergerak di atas US$ 1.200 per ons troi setelah penerapan tarif impor 25% oleh Amerika Serikat dan China untuk produk dari negara lawan perdagangan ini.

Harga untuk emas masih bertahan di atas US$ 1.200 setelah Presiden AS Donald Trump akhir pekan lalu mengatakan bahwa dia tidak perlu mempertahankan Kanada dalam perjanjian perdagangan Amerika Utara (NAFTA). Dia pun memperingatkan agar Kongres tak ikut campur dengan negosiasi ini atau dia akan memutus kesepakatan tiga negara.

NAFTA merupakan kesepakatan dagang tiga negara, yakni AS, Kanada, dan Meksiko. Sebelumnya, Trump mengungkapkan lebih suku meneken kesepakatan terpisah antara Meksiko dan Kanada meski ketiganya berada dalam satu kesepakatan. AS telah menegosiasikan kesepakatan dagang dengan Meksiko.

Trump pun dikabarkan sedang mempersiapkan penerapan tarif impor barang dari China bernilai US$ 200 miliar. “Selama kekhawatiran perang dagang mengerek penguatan mata uang dollar AS, harga emas akan tertekan,” kata Nitesh Shah, commodity strategist ETF Securities kepada Reutes.

Di sisi lain, Walter Pehowich dari Dillon Gage Metals mengatakan, jika krisis emerging market mereda, harga emas akan sangat volatile.

Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menjadi salah satu alternatif investasi bagi investor dalam negeri. Di saat pasar saham maupun aset berisiko sedang bergejolak, investor lebih memilih memborong emas batangan.

Mengutip laman www.logammulia.com, Kamis (30/8), emas Antam bertengger di harga Rp 650.000 per gram, naik Rp 16.000 atau sekitar 2,5% dibanding posisinya di awal tahun. Ini membuktikan, tekanan harga emas global rupanya tidak meredupkan pamor emas Antam.

Padahal di saat yang sama, harga emas dunia sudah terkoreksi 9,35% sepanjang tahun ini. Mengutip Bloomberg, Kamis (30/8) pukul 16.26 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember 2018 di Commodity Exchange berada pada level US$ 1.208,3 per ons troi.

Alwi Assegaf, Analis Global Kapital Investama, mengatakan, harga emas dunia memang bergerak dalam tren turun lantaran tertekan oleh penguatan dollar Amerika Serikat (AS). Tren penurunan harga emas kemungkinan masih berlanjut. Soalnya, masih ada prospek kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kenaikan suku bunga The Fed ini menjadi amunisi bagi pergerakan dollar AS sehingga berpotensi menekan emas.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga AS membuat emas sebagai aset non-bunga semakin redup. Ditambah lagi, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membuat imbal hasil obligasi AS semakin tinggi. Investor tentu cenderung memilih obligasi dibanding emas. “Meski masih terjadi perang dagang, ternyata dollar AS lebih diuntungkan. Posisi emas sebagai safe haven juga tidak tampak,” lanjut Alwi. Biasanya investor memburu emas sebagai safe haven alias aset aman ketika terjadi gejolak di pasar global, termasuk ancaman perang.

Bagi emas Antam, penurunan harga emas dunia tentu menjadi ancaman. Sebab, penentuan harga emas Antam memang mengacu pada emas dunia dan nilai rupiah. Tetapi, koreksi pada emas Antam tidak terlalu signifikan lantaran ditahan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Pelemahan rupiah ini, menurut Alwi, juga dipandang sebagai indikasi ketidakpastian ekonomi dalam negeri. Nah, ketika terjadi ketidakpastian, investor menjadikan emas Antam sebagai aset lindung nilai kekayaan. “Meski emas dunia turun, emas Antam masih cenderung naik karena faktor utama yang mendorong investor mengoleksi emas adalah menganggapnya sebagai aset aman,” lanjut Alwi.

Emas Antam lebih stabil
Dengan tipikal investor dalam negeri yang cenderung konservatif, Alwi memperkirakan, permintaan emas batangan masih akan terus tumbuh. Hal ini pula yang menjaga harga emas Antam stabil.

Sementara kenaikan emas Antam secara signifikan masih sulit tercapai di tengah tekanan harga emas dunia. Apalagi, faktor penggerak harga untuk emas Antam, yakni emas dunia dan rupiah, sebenarnya saling tarik menarik. Penyebab kenaikan harga emas dunia adalah melemahnya nilai tukar dollar AS. Sementara pelemahan the greenback ini membuat rupiah menguat.

Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar memperkirakan, harga emas Antam masih akan menguat, baik tahun ini maupun tahun depan. “Selama sebagian besar masyarakat kita masih konservatif, selama itu pula emas Antam akan tetap dikoleksi sebagai investasi. Tingginya permintaan itu menjaga harga emas batangan,” imbuhnya.

Sementara laju harga emas dunia sedang menyesuaikan dengan kondisi global. Perang dagang antara AS dengan China memang sempat memicu kepanikan pasar. Tetapi, hal tersebut justru mendorong permintaan dollar AS. Sementara prospek kenaikan suku bunga The Fed tetap terbuka, meski Presiden Donald Trump sempat mengkritisi kebijakan Bank Sentral AS itu. “Murahnya harga emas justru memicu pembelian, walau masih terbatas,” lanjut Deddy.

Deddy memprediksi, harga emas Antam hingga akhir tahun ini akan bergerak pada kisaran Rp 630.000–Rp 670.000 per gram. “Tahun depan bukan tidak mungkin bisa menyentuh Rp 700.000 per gram,” ujarnya.

Menurut Alwy, harga emas tahun depan tergantung supply dan demand. Jika terjadi ketidakpastian di tahun politik, ada potensi emas Antam kembali diburu. Namun, jika kondisi politik dalam negeri cenderung kondusif setelah pemilihan presiden, bisa jadi investor kembali melirik aset berisiko. ”Meskipun begitu, tidak serta merta membuat emas Antam turun tajam. Jadi, nilainya akan cenderung stabil, kenaikannya tidak banyak dan turunnya juga tidak banyak,” ujarnya.

Hingga akhir tahun, Alwi memprediksi emas Antam akan bergerak pada kisaran Rp 607.000–Rp 660.000 per gram. Penghitungan ini juga mempertimbangkan harga emas global yang kemungkinan bergerak pada level US$ 1.160–US$ 1.250 per ons troi dan proyeksi nilai tukar rupiah Rp 14.500–Rp 14.700 per dollar AS.

Source : kontan.co.id