KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas terkoreksi tipis pada hari ini. Rabu (23/1) pukul 11.39 WIB, harga emas untuk pengiriman Februari 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.283,30 per ons troi, turun tipis dari posisi kemarin pasar US$ 1.283,40 per ons troi.

“Permintaan emas dan safe haven memiliki hubungan yang stabil. Ada sedikit sentimen risk-off,”  kata Georgette Boele, analis ABN AMRO kepada Reuters.

Dia menambahkan bahwa penurunan pasar saham di Eropa dan AS serta keraguan akan kemajuan negosiasi dagang AS-China mendukung emas. Pesimisme pertumbuhan ekonomi global menggantungi pasar saham setelah IMF memangkas proyeksi pertumbuhan tahun ini dan tahun depan.

Di sisi lain, nilai tukar dollar AS hari ini menguat terhadap mata uang utama dunia. Indeks dollar berada di 96,31, naik tipis dari posisi kemarin. Indeks yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia ini kembali ke atas level 96 sejak pekan lalu setelah cenderung tertekan akibat shutdown sebagian pemerintah AS.

Senin (21/1), harga emas spot kontrak pengiriman Februari 2019 di Commodity Exchange melemah 0,41% menjadi US$ 1.277,40 per ons troi. Bahkan dalam sepekan, harga si kuning anjlok 1,08%
Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, perundingan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China mengarah ke hasil positif. Ini membuat pelaku pasar mulai menjauhi emas.
Rencana China meningkatkan impor dari AS senilai US$ 1 triliun dalam enam tahun membuat pasar kian optimistis. Hal tersebut diharapkan membuat surplus perdagangan China atas Negeri Paman Sam di 2024 menjadi nol. Tahun lalu surplus dagang China atas AS mencapai US$ 323 miliar.
Wakil Perdana Menteri China Liu He dikabarkan akan mengunjungi AS pada 30 dan 31 Januari mendatang untuk putaran kedua negosiasi perdagangan. Pertemuan tersebut menyusul negosiasi tingkat menteri yang berlangsung di Beijing pekan lalu.
Di sisi lain, permintaan emas jelang Imlek belum terlihat naik. Padahal, menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, permintaan emas jelang Imlek lazimnya tinggi setiap tahunnya. “Momen Imlek dan Diwali tidak mampu mendorong daya beli pasar jika dollar AS menguat,” kata dia, Senin (21/1).
Masih rendahnya permintaan terhadap komoditas logam mulia ini semakin menegaskan adanya perlambatan ekonomi di China. Minggu (20/1), Biro Statistik Nasional China mengumumkan, pertumbuhan ekonomi Negeri Panda tersebut di 2018 hanya 6,6%. Ini merupakan level terendah yang dicapai China sejak 1990 silam.
Deddy menambahkan, ketidakpastian Brexit membuat pasar lebih suka masuk ke dollar AS ataupun US Treasury. Selain itu, dollar AS mulai menguat akibat ketidakpastian shutdown menambah beban emas.
Untuk hari ini, Faisyal memperkirakan harga emas bergerak di rentang US$ 1,270–US$ 1,290 per ons troi, dengan kecenderungan melemah. Sementara sepekan ke depan, menurut Deddy, harga si kuning ada bergerak antara US$ 1,293–US$ 1,298 per ons troi.
Secara teknikal, harga emas berada di atas garis moving average (MA) 50, MA 100 dan MA 200. Sementara indikator stochastic berada di area 16, dengan relative strength index (RSI) di area 53, menunjukkan potensi penguatan jangka panjang. Sama halnya dengan indikator MACD yang berada di area positif.
Source : kontan.co.id