PT KP PRESS – Harga emas turun, meski masih dekat dengan rekor US$ 1.800 per ons troi. Harga emas terkoreksi setelah naik tinggi kemarin. Rabu (1/7) pukul 08.10 WIB, harga emas untuk pengiriman Agustus 2020 di Commodity Exchange ada di US$ 1.797,30 per ons troi, turun 0,17% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 1.800,50 per ons troi.

KONTAK PERKASA FUTURES – Kemarin, harga emas melonjak ke level tertingginya selama hampir 8 tahun karena meningkatnya kekhawatiran akan peningkatan kasus virus corona yang membuat permintaan safe haven naik.

PT KONTAK PERKASA – Meski terkoreksi, emas kini masih mendekati level US$ 1.800 per ons troi. Sebab, emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang, menuju kenaikan bulan ketiga, didorong oleh langkah-langkah stimulus untuk mendukung ekonomi yang hancur oleh pandemi.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – “Fundamental bullish yang mendasari asar emas tetap ada dan itu termasuk Covid-19 yang masih mendorong permintaan safe haven, stimulus bak sentral yang telah membuat harga emas mencetak rekor dan dapat menyebabkan inflasi di masa depan,” kata analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff seperti dikutip Reuters.

Beberapa negara bagian AS kembali menutup bisnisnya setelah sempat dibuka demi memerangi lonjakan kasus.

Gubernur Federal Reserve AS Jerome Powell pada hari Senin mengatakan prospek ekonomi AS sangat tidak pasti. “Imbal hasil AS terus menggiling lebih rendah dan akibatnya adalah tingkat riil mencetak rekor terendah baru yang telah meningkatkan logam mulia,” kata Daniel Ghali, ahli strategi komoditas di TD Securities.

Jadi instrumen paling cuan, emas bakal jadi jawara hingga akhir 2020

Sukses naik banyak sepanjang 2020, tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut hingga akhir tahun. Meskipun begitu, peluang kenaikan di sisa tahun ini cenderung terbatas atau tidak sesignifikan enam bulan terakhir.

Berdasarkan rangkuman Kontan, diketahui instrumen investasi yang memberikan return tertinggi sepanjang periode Januari-Juni 2020 adalah emas berjangka untuk pengiriman Agustus yang diperdagangkan di Comex mencatatkan kenaikan 16,94% dari US$ 1.523 per ons troi menjadi US$ 1.781 per ons troi pada Senin (29/6). Sedangkan emas Antam tercatat naik 5,8% dengan harga beli Rp 771.000 per gram di akhir 2019 dan harga buyback per Selasa (30/6) sebesar Rp 814.000 per gram.

Selanjutnya, ada instrumen valuta asing (valas) untuk pasangan EUR/GBP yang mencatatkan kenaikan 7,92% per Selasa (30/6) di level 0.9129. Disusul dengan obligasi korporasi yang naik 4,44% year to date (ytd) berdasarkan data Penilaian Harga Efek Indonesia (PHEI).

Sebaliknya, mengutip RTI Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jadi instrumen yang mencatatkan penurunan cukup dalam selama periode Januari-Juni 2020, yakni melorot 22,10%.

Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto mengungkapkan selama obat Covid-19 belum ditemukan dan hubungan antara China dan Amerika Serikat (AS) masih memanas, emas bisa jadi pilihan terbaik hingga sisa 2020. Selanjutnya, tinggal menyesuaikan pada profil risiko masing-masing investor.

“Instrumen jawara tampaknya masih dikuasai emas, karena Covid-19 tampaknya belum akan ada penawarnya. Ditambah lagi, tahun ini pasar akan dihadapkan pada pemilu Presiden AS yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian,” ungkap Eko kepada Kontan, Selasa (30/6).

Untuk itu, bagi investor tradisional Eko merekomendasikan kepemilikan emas milik Aneka Tambang (Antam). Meskipun tren harga emas tersebut cenderung dikendalikan oleh perusahaan, investor bisa memilih tempat lain untuk melakukan penjualan atau memaksimalkan capital gain.

Sedangkan untuk investor yang memiliki profil sebagai investor modern bisa melakukan trading atau kontrak derivatif saat melirik instrumen investasi emas. Investor jenis tersebut cenderung memiliki risiko lebih tinggi. “Meskipun emas bisa jadi pilihan ke depan, namun kenaikannya tidak akan setinggi semester I-2020,” tekan Eko.

Sementara itu, Eko menjelaskan pertumbuhan obligasi korporasi di enam bulan pertama 2020 dikarenakan banyak investor saham yang mengalihkan investasinya ke instrumen obligasi korporasi. Dibandingkan instrumen saham atau properti, investor cenderung melirik obligasi korporasi yang lebih aman dan minim risiko.

“Apalagi, dengan tren suku bunga turun ke depan, prospek obligasi dan emas cenderung positif atau naik di sisa 2020,” ujarnya.

Ke depan, Eko lebih merekomendasikan investor untuk melirik instrumen obligasi baik korporasi maupun pemerintah, dengan potensi return sekitar 10%. Selain mendapatkan cashflow dari kupon, investor juga bisa mendapatkan capital gain dari instrumen tersebut. Sedangkan untuk emas, meskipun positif, potensi kenaikannya cenderung terbatas.

Untuk investor yang berencana investasi di jangka panjang bisa melirik reksadana saham. “Bisa alokasikan 75% ke reksadana pendapatan tetap dan 25% bisa ke reksadana saham,” jelasnya.

Untuk instrumen valas sendiri, menurut Eko pergerakannya cenderung spekulatif. Naiknya harga EUR/GBP dalam enam bulan terakhir didukung oleh baiknya penanganan Covid-19 di Eropa. Di sisi lain, investor masih menghindari dollar AS dan yen seiring tingginya ketegangan kedua negara yang berpotensi membuat kurs bergerak terlalu volatile.

“Tapi kalau AS dan China berdamai, kemungkinan prospek yen akan lebih menarik ketimbang EUR ke depannya,” tandasnya.

Source : kontan.co.id