PT KP PRESS – Harga emas naik mendekati akhir semester pertama, menguat 16,40% sejak awal tahun. Harga emas berupaya naik lagi meski belum mampu melewati level yang tercapai pada Selasa (23/6) lalu. Pada Jumat (26/6) pukul 6.53 WIB, harga emas spot berada di US$ 1.766,17 per ons troi.

KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas hari ini menguat 0,13% jika dibandingkan dengan harga penutupan perdagangan kemarin. Harga emas mencapai level tertinggi dalam 7,5 tahun terakhir pada Selasa lalu. Saat itu, harga emas ditutup pada US$ 1.768,41 per ons troi. Mendekati akhir semester pertama, harga emas naik 16,40% sejak awal tahun.

PT KONTAK PERKASA – Dalam tiga hari perdagangan, harga emas cenderung stabil di kisaran atas. “Pasar emas memiliki penopang kuat gelombang kedua virus corona di Amerika Serikat (AS) dan seluruh dunia serta kekhawatiran ekonomi yang menyertai,” kata David Meger, director of metals trading High Ridge Futures kepada Reuters.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Klaim pengangguran mingguan AS yang dirilis kemarin menunjukkan bahwa jutaan orang masih mendapatkan tunjangan pengangguran lebih dari sebulan setelah berbagai bisnis kembali beroperasi. Data lain menunjukkan bahwa ekonomi akan turun lebih dalam di kuartal kedua.

“Penurunan harga emas masih dilihat investor sebagai peluang beli. Jadi kami melihat penurunan harga emas hanya sementara dan akan memicu level tertinggi baru dalam waktu dekat,” ungkap Commerzbank dalam catatan yang dikutip Reuters.

Emas diperkirakan akan mampu menembus level US$ 1.800 per ons troi

Kekhawatiran kembali muncul di kalangan pelaku pasar, emas kembali berada dalam tren penguatan.

Merujuk Bloomberg, harga emas spot saat ini pada pukul 16.30 WIB berada di level US$ 1.764 per ons troi. Sedangkan harga emas berjangka Comex pengiriman Agustus 2020 berada di level US$ 1.733 per ons troi.

Padahal, pada awal Juni emas berjangka sempat jatuh ke level US$ 1.683 per ons troi. Penurunan ini disebabkan oleh kembali diliriknya aset berisiko setelah aktivitas ekonomi di berbagai negara telah dibuka.

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan aset safe haven seperti emas kembali dilirik investor setelah pembukaan lockdown ternyata membuat kasus gelombang kedua virus corona kembali bermunculan. Selain itu, faktor krisis di berbagai belahan negara belakangan ini juga mendorong emas semakin mengkilap.

“Emas sebagai aset nilai lindung tentu diuntungkan ketika krisis dan ketidakpastian kembali melanda pasar. Belum lagi, dengan adanya stimulus moneter di tengah resesi global juga akan menambah pamor emas,” kata Wahyu kepada Kontan.co.id, Kamis (25/6).

Emas diperkirakan masih akan terus melanjutkan tren positifnya ke depan. Terlebih, International Monetary Fund (IMF) menurunkan outlook untuk perekonomian dunia, diproyeksikan akan mengalami resesi yang lebih dalam dan pemulihan yang lebih lamban dibanding proyeksi pada dua bulan silam.

Wahyu menilai, dengan tren saat ini, emas sangat mungkin akan menembus level US$ 1.800 per ons troi. Jika tidak terjadi dalam waktu dekat, setidaknya Wahyu memperkirakan level tersebut masih akan tetap tercapai pada akhir tahun nanti.

Sementara itu, dengan emas yang permintaannya telah meningkat hampir 600 ton pada 2020, ditambah lagi dengan interest rates AS yang negatif, Goldman Sachs Group Inc. memproyeksikan emas akan mampu menyentuh rekor US$ 2.000 dalam 12 bulan ke depan.

Source : kontan.co.id