KONTAK PERKASA FUTURES – Harga emas spot melanjutkan kenaikan menjelang akhir pekan ini. Jumat (4/10) pukul 7.28 WIB, harga emas spot berada di US$ 1.508,56 per ons troi, menguat 0,22% jika dibandingkan dengan harga penutupan perdagangan kemarin. Sementara harga emas berjangka untuk pengiriman Desember 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.513,40 per ons troi, turun tipis dari harga kemarin pada US$ 1.512,80 per ons troi.

PT KONTAK PERKASA – Sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang memburuk, seperti indeks aktivitas manufaktur yang mencapai level terendah dalam 10 tahun, indeks sektor jasa yang mencapai level terendah dalam tiga tahun terakhir, serta data tenaga kerja yang lebih rendah daripada prediksi, menyebabkan investor kembali menyentuh safe haven.  Apalagi, Rabu pekan ini AS mengumumkan akan menerapkan tarif impor 10% untuk pesawat Airbus, serta 25% untuk berbagai produk impor dari Uni Eropa.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – “Tarif AS terhadap Uni Eropa ini menciptakan ketidakpastian dan potensi kegagalan ekonomi,” kata John Meyer, analis SP Angel kepada Reuters. Dari Benua Biru, aktivitas manufaktur pun kontraksi pada bulan September dan mulai mempengaruhi industri jasa. “Hal ini mengindikasikan tekanan pasar dan resesi yang tidak terhindarkan,” imbuh Meyer.

Carlo Alberto De Casa, chief analyst ActivTrades mengatakan bahwa harga emas rebound ke atas US$ 1.500 karena tensi baru perang dagang. “Dalam jangka pendek, tren harga masih bervariasi, tapi jangka menengah-panjang masih positif untuk emas,” kata dia.

Investor akan menunggu data tenaga kerja yang akan dirilis malam ini. Jika data keluaran Departemen Tenaga Kerja AS ini juga lebih buruk daripada prediksi pasar, maka harga emas bisa menguat lagi.Pasar obligasi dan emas kembali memberikan imbal hasil tertinggi hingga kuartal III-2019. Berdasarkan PT Penilai Harga Efek Indonesia, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang mengukur kinerja pasar obligasi mencetak kenaikan kinerja 15,54% di sepanjang kuartal III-2019.

Di posisi kedua, harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (ANTM) tercatat naik Rp 94.000 atau naik 14% di periode yang sama. Sementara, indeks harga saham gabungan (IHSG), di periode yang sama turun 0,40%. Kompak rata-rata kinerja rekasadana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index 90 juga masih berkinerja turun 6,35%.

Namun, kinerja rata-rata reksadana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index 90,  menguat 8,29%. Sementara, instrumen valas USD/IDR tercatat beri keuntungan 1,35%. Head of Research & Consulting Service Infovesta Utama Edbert Suryajaya melihat kinerja pasar obligasi sudah sangat baik. Kinerja unggul tersebut tersokong dari penurunan suku bunga baik di domestik maupun global.

Namun, kinerja pasar saham loyo karena tertekan sentimen eksternal yang menimbulkan banyak ketidakpastian. “Untuk yang berinvestasi di pasar saham dan berharap kinerja pasar saham harusnya lebih tinggi dari pasar obligasi kondisi kinerja hingga kuartal III-2019 termasuk mengecewakan,” kata Edbert, Kamis (3/10).

Sementara, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi merasa cukup puas dengan kinerja pasar keuangan hingga kuartal III-2019. Reza mengatakan ia berhasil catat imbal hasil pada reksadana hingga belasan persen.

Reza menilai pasar terlalu berlebihan dalam merespon risiko resesi. Menurutnya, di tahun depan yang mungkin terjadi adalah perlambatan ekonomi global bukan resesi global. Tak heran bila harga emas menguat cukup tinggi karena kekhawatiran resesi tersebut.

Bila kekhwatiran pasar berlanjut maka harga emas masih berpotensi naik karena investor pindah ke aset safe haven berupa emas.

Source : kontan.co.id