PT KONTAK PERKASA – Harga emas spot sore ini masih bergerak menurun. Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (10/9) pukul 17.00 WIB, harga emas spot berada di US$ 1.495,48 per ons troi. Turun 0,24% dibandingkan penutupan kemarin.

Sementara, harga emas untuk pengiriman Desember 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.503,30 per ons troi. Harga emas berjangka ini turun 0,52% jika dibandingkan dengan harga penutupan perdagangan kemarin.

Minat risiko yang perlahan kembali serta naiknya yield US Treasury memberatkan langkah harga emas. “Posisi emas sangat bullish sehingga tidak heran ada sejumlah profit taking dan aksi jual sekarang,” kata Bart Melek, head of commodity strategist TD Securities kepada Reuters.

Minat risiko juga kembali meningkat setelah China mengumumkan rencana pemangkasan rasio pencadangan bank sementara bank sentral AS Federal Reserve mengatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

Para trader memperkirakan pemangkasan suku bunga lagi pada rapat The Fed bulan ini. European Central Bank (ECB) pun diramal mengucurkan stimulus pada pertemuan Kamis (12/9).

Wang Tao, analis teknikal Reuters memperkirakan, support teknikal harga emas berada di US$ 1.497 per ons troi. Jika support ditembus, harga emas bisa turun ke US$ 1.453 per ons troi.

Tren pelemahan harga emas diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir 2019. Untuk itu, investor direkomendasikan untuk melakukan aksi jual. Bahkan, tren bearish berpeluang membawa harga emas menuju level US$ 1.400 per ons troi di sisa 2019.

Mengutip Bloomberg, pada perdagangan Selasa (10/9) pukul 21.30 WIB, harga emas di pasar spot ada di US$ 1.493,10 per ons troi, turun 0,40% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 1.499,13 per ons troi.

Analis Finex Berjangka Nanang Wahyudin mengungkapkan, bergeraknya harga emas di bawah US$ 1.500 per ons troi, lantaran sentimen global yang cenderung membaik. Hal ini tampak dari penguatan bursa saham global dan secara tidak langsung membuat harga emas kian tertekan.

Namun Nanang menekankan, bukan berarti emas sepenuhnya ditinggalkan, melainkan penguatan tajam dalam waktu singkat memicu koreksi yang cukup besar juga. Sehingga hal tersebut sudah biasa terjadi pada aset keuangan.

“Persepsi investor yang membaik membuat minat atau selera terhadap risiko (risk appetite) meningkat,” jelas Nanang kepada Kontan.co.id Selasa (10/9).

Sebaliknya, ketika risk appetite meningkat aset aman (safe haven) seperti emas menjadi kurang menarik. Alhasil investor lebih tertarik masuk ke aset berisiko yang memiliki imbal hasil tinggi.

Apalagi, pekan ini juga menjadi penting karena Bank Sentral Eropa (ECB) akan melakukan pertemuan. Dalam pertemuannya bank sentral diprediksikan bakal mengeluarkan stimulus baru.

Dengan begitu, baik kebijakan ECB dan Bank Sentral AS (The Fed) diyakini bakal menjadi penggerak pasar untuk 10 hari ke depan.

Kedua komite tersebut juga akan membahas perkembangan ekonomi terbaru, memperbarui penilaian prospek mereka, serta menerapkan tindakan atau arah kebijakan apapun yang mereka anggap perlu.

Source : kontan.co.id