PT KP PRESS – Harga emas terkerek nasib tak menentu Brexit. Tertundanya rencana Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (UE) atau dikenal dengan Brexit, bisa menjadi katalis signifikan bagi pergerakan harga emas di sisa 2019. Mengutip Bloomberg, pukul 18.42 WIB, Senin (21/10), emas pasar spot ke US$ 1.491,44 per ons troi atau menguat tipis 0,09%. Sedangkan, emas berjangka untuk pengiriman Desember 2019 ke US$ 1.494,90 per ons troi atau menguat 0,05% dari sesi sebelumnya.

KONTAK PERKASA FUTURES – Sebagai informasi, pada Sabtu (19/10) pihak parlemen Inggris memutuskan untuk mengajukan perpanjangan waktu selama tiga bulan untuk kali ketiganya kepada UE. Itu terjadi setelah Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson kalah dengan hasil suara 322 lawan 306 pada voting parlemen Inggris terkait draft Brexit yang telah diajukkan.

PT KONTAK PERKASA – Apalagi, Johnson secara pribadi tidak memberikan tanda tangan pada proposal penundaan deadline Brexit yang awalnya jatuh pada tanggal 31 Oktober mendatang. Keengganan Johnson itu juga didukung oleh Government Minister, Michael Gove. Menurutnya, Inggris tetap akan lepas dari Uni Eropa sesuai tenggat waktu awal, meskipun Johnson mengajukan penundaan.

PT KONTAK PERKASA FUTURES – Alhasil, terkait perkembangan ketidakpastian Brexit yang hingga kini masih menjadi fokus utama bagi para investor. “Ini akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi pergerakan logam mulia emas sebagai safe-haven di tengah kondisi ketidakpastian geopolitik yang sedang terjadi,” Analis PT Rifan Financindo Berjangka Puja Purbaya Sakti kepada Kontan, Senin (21/10)..

Di sisi lain, investor juga masih fokus pada perkembangan kesepakatan dagang antara AS-China, serta rapat Federal Open Market Committe (FOMC) yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Kekhawatiran pasar atas perlambatan ekonomi global akibat resesi dan kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan The Fed telah diantisipasi pasar.

Selain itu, ,munculnya kekhawatiran pasar atas resesi global juga tampak dari merosotnya pertumbuhan ekonomi China pada kuartal ketiga tahun ini ke 6,0% mendekati level terendah dalam 27 tahun terakhir. Ditambah lagi, rilis data penjualan ritel AS di September kembali menunjukkan angka negatif -0,3% yang merupakan level terendah dalam 7 bulan terakhir.

Data ini semakin memperkuat kemungkinan pemotongan suku bunga The Fed pada akhir bulan Oktober, meski belum menuju ke siklus Rate Cut secara penuh seperti yang diungkapkan para pejabat The Fed. Fed Rate Monitor Tool mencatat, persentase perkiraan Rate Cut untuk Oktober naik menjadi 88,2% dari sebelumnya di 73,8%.

“Apabila Rate Cut jadi diterapkan sesuai dengan prediksi para investor, maka akan memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga emas ke depannya,” tegas Sakti. Sementara itu, pekan ini investor cenderung akan fokus pada perkembangan Brexit, negosiasi dagang antara AS-China dan konferensi pers terakhir Mario Draghi pada rapat bulan Bank Sentral Eropa (ECB) di Kamis (24/10) nanti.

Secara teknikal, dengan range bulanan indikator Moving Average Exponential (EMA) menunjukkan kondisi yang melebar dengan arah harga naik. Selanjutnya pada indikator Relative Strength Index (RSI) berada di area 67,93 yang menunjukkan arah harga naik.

Indikator lainnya seperti Commodity Channel Index (CCI) berada di area +161,74 yang menunjukkan arah harga di area overbought. Dengan begitu, secara umum harga emas masih berpotensi untuk melanjutkan kenaikan hingga akhir tahun. Rekomendasi trading untuk emas adalah Buy dengan level resistance harian antara US$ 1.494,47 per ons troi, US$ 1.498,33 per ons troi, dan US$ 1.507,03 per ons troi.

Sedangkan untuk level support harian berada di kisaran US$ 1.485,77 per ons troi, US$ 1.480,93 per ons troi, dan US$ 1.472,23 per ons troi. Sementara itu, untuk level harga emas tahunan berada di kisaran resistance US$ 1.609,77 per ons troi, US$ 1.728,93 per ons troi, dan US$ 2.019,93 per ons troi dan support tahunan di US$ 1.318,77 per ons troi, US$ 1.146,93 per ons troi, dan US$ 855,93 per ons troi.

Source : kontan.co.id