PT KONTAK PERKASA FUTURES – Harga aluminium internasional terus bergerak naik. Akhir pekan lalu (11/8), harga aluminium bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak November 2014 di posisi US$ 2.042,5 per metrik ton.

Kemarin (14/8), harga aluminium memang terkoreksi tipis. Harga aluminium kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,95% ke level US$ 2.023 per metrik ton. Tapi, dalam sepekan, harganya sudah melambung 3%.

Meski terkoreksi, analis melihat harga aluminium masih berada dalam fase bullish. Ada beberapa faktor yang menyokong kenaikan harga emas. Pertama, pemangkasan produksi aluminium di China.

Research & Analyst Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto menjelaskan, pemangkasan produksi di Shandong, akibat isu lingkungan hidup dan pencemaran udara, sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga aluminium. “Pelaku pasar melihat kemungkinan defisit produksi di China,” ujar dia, kemarin.

Sebagai informasi, salah satu pengolahan (smelter) aluminium milik produsen terbesar aluminium di China, memangkas kapasitas produksi sebesar 3,21 juta ton per tahun pada akhir Juli lalu. Pemangkasan dilakukan akibat tekanan dari pemerintah.

Kedua, permintaan aluminium dari sektor otomotif meningkat. Hal ini mengompensasi pelemahan akibat turunnya permintaan dari sektor properti. Selama ini aluminium menjadi bahan baku untuk produksi kendaraan dengan berat yang lebih ringan.

Ketiga, data ekonomi Amerika Serikat (AS) tak sesuai prediksi. Misal, inflasi AS di Juli lebih rendah dari ekspektasi. Hal ini membuat nilai tukar dollar AS melemah. Otomatis harga komoditas yang diperdagangkan dengan mata uang dollar AS menguat, termasuk aluminium.

Menurut Andri, jika momentum ini bisa dijaga dengan baik, terutama oleh China, bukan tidak mungkin harga aluminium masih akan terus melesat hingga level US$ 2.300 per metrik ton di akhir 2017. “Koreksi memang mungkin ada, tapi terbatas,” ujar dia.

Apalagi, aluminium masih minim sentimen negatif. Tapi pelaku pasar perlu memperhatikan penurunan output produksi industri China di Juli yang mencapai 6,4% year on year (yoy), turun lebih dalam ketimbang prediksi sebesar 7,1%. “Juga waspada dengan rebound dollar, ini bisa membuat harga aluminium koreksi,” ucap Andri.

Karena itu, Rabu (16/8), Andri memprediksi harga aluminium berpotensi kembali menguat dan bergerak di kisaran US$ 2.020-US$ 2.050 per metrik ton. Lalu dalam sepekan ke depan, harga aluminium berpeluang bergerak di rentang US$ 2.000-US$ 2.100 per metrik ton.

Secara teknikal, indikator moving average (MA) 50, MA100, dan MA200 menunjukkan sinyal beli. Kemudian, indikator relative strength index (RSI) dan stochastic masing-masing berada di area 61,2 dan 72,1 dengan sinyal beli. Moving average convergence divergence (MACD) juga mengindikasikan sinyal beli di level 0,038.

Data inflasi AS membuat USD tertekan dan berpengaruh positif pada harga komoditas.

Source : kontan.co.id