PT KONTAK PERKASA – Perlahan namun pasti, harga emas mulai menanjak. Harga si kuning kembali melesat lantaran sejumlah peristiwa yang memicu ketegangan politik global geopolitik.

Jumat (25/5), per pukul 18.05 WIB, harga emas kontrak pengiriman Juni 2018 di Commodity Exchange terkerek 0,09% ke US$ 1.305,60 per ons troi. Pekan ini, harga emas tercatat sudah naik 1,1%.

Analis Global Kapital Investama Berjangka Alwy Assegaf mengatakan, sebelum ini harga emas datang tertekan karena pelaku pasar punya ekspektasi suku bunga The Federal Reserve bakal naik lebih agresif di tahun ini. Namun, notulensi pertemuan FOMC yang dirilis pekan ini meredam ekspektasi tersebut.

Notulensi tersebut memberi sinyal mayoritas pejabat The Fed menyetujui kenaikan suku bunga acuan bersifat gradual. Tidak ada pembahasan mengenai kenaikan suku bunga lebih dari tiga kali tahun ini. “Artinya, masih belum ada perubahan kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat (AS) sehingga emas bisa rehat dari penurunannya,” kata Alwy, Jumat (24/5).

Sinyal penguatan

Konflik politik AS yang kembali mencuat turut menjadi dorongan sentimen positif untuk emas. Kemarin, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan surat pembatalan konferensi tingkat tinggi (KTT) dengan Korea Utara yang sedianya dijadwalkan 12 Juni mendatang.

Sementara, ketidakpastian dagang antara AS dan China juga belum sepenuhnya mereda. Pasalnya, Trump sempat mencetuskan ketidakpuasan terhadap proses negosiasi dengan China. “Kekhawatiran pasar terhadap ketidakstabilan politik di Iran dan Venezuela juga masih ada. Jadi, aset safe haven berpotensi diburu lagi oleh pelaku pasar,” tambah Alwy.

Adapun, harga emas saat ini sudah mulai kembali menembus level psikologisnya di area US$ 1.300. Geopolitik. Proyeksi Alwy, penguatan harga emas berpeluang berlanjut hingga awal pekan depan jika level ini mampu dipertahankan.

Tambah lagi, dollar AS sudah terus menguat dalam lima pekan terakhir dan mulai mengalami overbought. Kondisi ini membuka peluang koreksi bagi dollar AS, sehingga harga emas bisa meneruskan laju penguatannya.

Sementara analis Monex Investindo Faisyal menilai, kenaikan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell. Bos bank sentral AS tersebut dijadwalkan berpidato di Stockholm, Jumat waktu setempat. “Pidato Powell akan menerangkan seperti apa kebijakan suku bunga ke depan, apakah agresif seperti yang sudah diantisipasi atau sebaliknya,” ujar Faisyal.

Data pemesanan inti barang tahan lama atawa core durable goods orders AS di April juga akan mempengaruhi harga emas pekan depan. Pemesanan barang produksi tahan lama AS di April naik 0,9% dibanding bulan sebelumnya. Geopolitik. Realisasi ini juga lebih tinggi dari konsensus, sebesar 0,5%. Ada kemungkinan, harga emas akan tertekan.

Alwy menyebut harga emas sejatinya telah menembus level resistance terdekat di US$ 1.297. Ini membuat emas berpeluang terus menguat dalam jangka pendek. Apalagi secara teknikal, indikator RSI sudah terlepas dari area oversold.

RSI juga terus bergerak naik memberi sinyal penguatan. “Saat ini, stochastic juga sudah membentuk golden cross dan berhasil keluar dari level 20 menuju ke atas, yang artinya harga akan menguat,” terang Alwy.

Ia memprediksi, harga emas sepekan ke depan akan bergerak di kisaran US$ 1.265–US$ 1.337 per ons troi.

Source : kontan.co.id