PT KONTAK PERKASA – Bagi para peminat mata uang koin kripto (cryptocurrency), nama-nama seperti bitcoin, ethereum, atau ripple pasti tak asing lagi. Jelas, ketiganya merupakan primadona dari ratusan mata uang kripto yang beredar di seluruh dunia lantaran peminatnya yang banyak dan harganya yang cukup tinggi.

Namun, sejumlah pegiat uang kripto dalam negeri tampaknya enggan terus menerus menguji untung melalui koin kripto internasional. Alhasil, sejumlah koin kripto lokal pun bermunculan. Masing-masing hadir dengan ciri dan kegunaannya masing-masing.

Nama Tokenomy (TEN) dan Pundi X (PXS) lebih dulu dikenal sebagai koin ciptaan Indonesia. Tokenomy dibesut salah satunya Oscar Darmawan, penggagas perusahaan perantara jual beli kripto (exchange) terbesar di Indonesia Indodax. TEN meluncur melalui initial coin offering (ICO) pada 15 Januari lalu. Sementara, Pundi X menggelar ICO pada 21 Januari 2018.

Bertambah lagi jajaran koin kripto asal Indonesia, di antaranya ialah Ana Coin yang ditawarkan oleh perusahaan exchange yang beroperasi di Indonesia, Rekeningku.com. Dari 200 juta koin yang disuplai, sebanyak 40% atau 80 jutanya dijual ke publik.

Sebelum ICO, Ana Coin sudah terlebih dahulu dijual lewat dua kali gelaran pra penjualan. Pertama, ada sebanyak 50 juta koin dijual dengan harga Rp 900. Kedua, sebanyak 30 juta koin dijual dengan harga Rp 950.

Memantau dari situs Rekeningku.com, harga Ana Coin bergerak naik sekitar 6,35% ke level Rp 1.527, Selasa (3/7). CEO Rekeningku.com, Sumardi, menjelaskan, Ana Coin merupakan koin utilitas yang khusus digunakan di platform Rekeningku. Koin ini berfungsi sebagai alat pembayaran transaksi jual-beli koin yang berlangsung di Rekeningku.

“Setiap transaksi jual-beli kripto dengan menggunakan Ana Coin akan mendapat diskon harga,” ujar Sumardi, Senin (2/7).

Ke depannya, utilitas koin ini pun akan ditambah yaitu untuk melakukan community voting pada platform Rekeningku.com. Community voting dilakukan untuk menentukan koin kripto selanjutnya yang layak di-listing di Rekeningku. Mekanismenya, setiap suara yang diberikan akan ditukar dengan sejumlah Ana Coin.

Selain itu, ada pula BBX Coin (BBX) besutan Bit Block Xchange. Koin ini baru saja meluncur melalui ICO yang digelar lewat platform Rekeningku.com, Senin (2/7) kemarin. BBX Coin disuplai dengan jumlah 19,99 juta koin, namun hanya 20% atau 4 juta koin yang dijual ke publik.

Agus Lasira, Supporting Team Member BBX menjelaskan, koin ini nantinya akan memiliki tiga utilitas. Pertama, menjadi alat bayar di Waroq, warung yang berafiliasi dengan BBX yang tersebar di Jabodetabek. Kedua, koin dapat ditukarkan dengan loyalty poin dari sejumlah merchant yang bekerja sama dengan BBX. Ketiga, koin dapat ditukarkan dengan emas bersertifikat antam dalam jumlah tertentu.

“Ketiga utilitas ini sedang kami bangun, untuk Waroq dan BBX Gold rencananya bisa terealisasi dalam tahun ini,” ujar Agus, Selasa (3/7) kepada Kontan.co.id.

Saat ICO, harga BBX Coin dipatok Rp 14.000. Per Selasa (3/7), berdasarkan situs Rekeningku.com, harga menanjak 9,47% ke level Rp 20.335 per koin.

Tak ketinggalan, ada juga Agricoin Masternode (AGC) yang dibuat oleh Riski Yudistira dan tim melalui perusahaannya AGC Fund. Koin ini sudah lebih dulu menggelar ICO pada November 2017 silam dan terbit dalam jumlah 12 juta koin dengan nama Agri Coin

Riski menjelaskan, koin ini diciptakan dengan tujuan membangun peer-to-peer lending di sektor pertanian dengan menggunakan kripto. Layaknya usaha P2P yng sudah berkembang saat ini, pemberi pinjaman dan peminjam dana dapat dipertemukan melalui platform AGC Fund, namun transaksi akan berlangsung menggunakan Agricoin.

“Dengan memakai kripto, kami bisa lebih leluasa menjangkau investor dari luar negeri. Potensi pemberi pinjaman pun makin besar tidak terbatas pada investor lokal saja,” ujar Riski, yang juga mantan konsultan PTPN VII, Selasa (3/7).

Nantinya, Agricoin yang diinvestasikan akan dibeli oleh AGC Fund dan dikonversikan menjadi uang fiat. Para petani atau pengusaha pertanian pun dapat menerima pinjaman dana dalam bentuk uang fiat. Riski menyebut, saat ini 1 Agricoin Masternode stara dengan 0,2 Bitcoin (BTC). Sejauh ini, Agricoin belum diperjualbelikan di platform exchange dalam negeri.

Riski cukup yakin, koin kripto lokal akan semakin menggeliat di masa depan. Apalagi, jika setiap koin yang diciptakan memiliki utilitas yang spesifik sehingga menarik minat lebih banyak orang. “Teknologi blockchain di Indonesia juga semakin berkembang. Nantinya, banyak hal akan disimplifikasi dengan penggunaan kritpo, termasuk peer to peer lending,” ujar Riski.

Sepakat, Agus sendiri mengaku belum benar-benar melihat koin kripto di pasar Indonesia yang memiliki fungsi jelas dan menarik. Menurutnya, yang terpenting adalah menciptakan fungsi koin yang dekat dan mudah buat masyarakat.

“Misal, dengan BBX ini nantinya orang akan terbiasa bertransaksi jual-beli menggunakan kripto lewat aplikasi. Ya, persis aplikasi uang digital yang ramai sekarang, lah,” kata Agus. Apalagi, peluang pangsa pasar kripto di Indonesia termasuk jumbo.

Sementara, Sumardi mengatakan, Rekeningku.com sangat terbuka menerima koin-koin kripto lokal baru untuk bergabung dalam platformnya. Di paruh kedua tahun ini, ia mengaku memfasilitasi ICO satu lagi kripto baru, yaitu Vexanium.

“Selama platform koinnya bagus, end-game-nya jelas dan benar, serta memiliki komunitas, Rekeningku mendukung koin kripto lokal untuk bergabung,” kata Sumardi.

Namun, sejatinya, ia lebih memilih kripto utilitas ketimbang koin sekuritas. Alasannya, koin sekuritas kerap hanya digunakan untuk menghimpun dana masyarakat tanpa tujuan pasti sehingga lebih berpotensi mengandung unsur penipuan.

Lain halnya dengan koin utilitas yang menurutnya akan lebih menarik dan memunculkan kebutuhan di tengah masyarakat. Alhasil, koin tersebut akan makin likuid dan harganya berpotensi terus terdongkrak naik.

Source : kontan.co.id