KONTAK PERKASA FUTURES – Adanya perubahan dalam kurun waktu singkat di pasar finansial dari kecemasan pada Brexit menjadi sikap hati-hati dapat menyebabkan tingkat ketidakstabilan pasar tetap tinggi dalam beberapa masa ke depan. Apalagi, investor sekarang juga tengah menunggu data laporan tenaga kerja AS Juni yang akan diterbitkan pada Jumat (8/7) mendatang.

Hasil survei CNBC mencatatkan, pada bulan Juni lalu, jumlah penambahan tenaga kerja AS hingga 180.000 orang. Angka demikian naik dari bulan Mei yang hanya sejumlah 38.000 orang.

Sejumlah ahli menilai, data Mei lalu adalah anomali yang dapat dijelaskan. Tapi, sejumlah pedagang akan fokus pada data tersebut agar memastikan bahwa pasar tenaga kerja disana tidak melemah.

Selain itu, bursa AS mau memulai transaksinya setelah weekend panjang libur perayaan Independence Day AS pada Selasa (5/7) mendatang. Masa liburan sekarang akan menjadi periode masa tenang sesudah indeks S&P bergerak bagaikan roller coaster dalam sesi terakhir.

Indeks S&P 500 melemah 5,3% pada periode Jumat sampai Senin pekan lalu, sesudah diumumkannya hasil referendum Inggris yang mencengangkan. Walau tingkat volatilitas masih tinggi, tapi, market berhasil bangkit kembali. Bahkan indeks S&P 500 berhasil bangkit dari kerugian sebelumnya.

Indeks S&P 500 menyudahi pekan ini dengan kenaikan 3,2% ke level 2.102, dan merupakan penguatan mingguan terbaik sejak November lalu.

“Kepala investor sudah mulai tenang. Sebelumnya saya merasa sangat khawatir saat menyarankan klien agar melakukan beli pada Jumat pagi. tapi nyatanya, rekomendasi itu adalah hal yang benar untuk dilaksanakan,” ujar equity and derivatives strategist UBS, Julian Emanuel.

Dia menuliskan, tingkat ketidakpastian pasar seperti yang terlihat pada VIX, CBOE Volatility Index, terjadi pelemahan lebih dari 40% dalam seminggu terakhir.

“Tapi bukan berarti volatilitas market mengalami pelemahan tajam. Kami rasa, volatilitas masih cukup tinggi hingga akhir tahun,” tambahnya.

Sementara itu, kuartal III ini dapat diwarnai sejumlah kejadian yang benar-benar ditunggu pelaku pasar. Diantaranya, isu Brexit yang menjadi penyebab Perdana Menteri Inggris David Cameron turun dari jabatannya per September yang akan datang. Kesepakatan antara Inggris dan Uni Eropa adalah kunci utama penggerak pasar menjelang akhir kuartal III.

Sentimen lainnya yaitu spekulasi tentang kenaikan suku bunga AS pada tahun sekarang, yang sangat tergantung pada ketidakpastian global serta situasi di Inggris. Berdasarkan perkiraan ekonom, Brexit tidak banyak berdampak pada ekonomi AS. Tapi, Brexit bisa menyebabkan resesi di Inggris serta perlambatan ekonomi Eropa.

Kuartal III juga adalah waktu di mana pemilu AS dapat menjadi perhatian investor. Volatilitas market diperkirakan akan semakin tinggi.

Konvensi Partai Republik akan dimulai 18 Juli mendatang. Sedangkan konvensi Partai Demokrat sepekan setelahnya. Menurut pandangan analis, market bisa semakin volatil saat konvensi berlangsung, mengingat akan dirilis sejumlah hasil polling yang mengangkat salah satu kandidat.

Wall Street berharap Hillary Clinton akan memenangkan pemilu presiden AS. Sehingga, jika kandidat Republik Donald Trump yang memenangkan pemilu, maka pasar market diprediksi akan bereaksi.

“Jika perbedaan semakin menipis, volatilitas market akan semakin tinggi. Pasar akan lebih nyaman dengan kemenangan Clinton dibanding Trump,” jelas John Canally, strategist and economist LPL Financial.

Emanuel meramal, volatilitas akan mendongkrak performa market, dengan indeks S&P 500 akan berada di level 2.175 pada akhir tahun.

Source : kontan.co.id