PT KONTAK PERKASA – Akhirnya manajemen PT First Travel angkat bicara terkait sengkarut keterlambatan pemberangkatan calon jamaah umrah perusahaan ini. Perusahaan biro travel umrah tersebut menuding, ada beberapa sebab mempersulit upaya menyelesaikan urusan keberangkatan umrah.

Andika Surachman, pemilik dan pimpinan PT First Travel, menyebutkan, salah satunya urusan visa. Ia menduga, ada oknum yang mempersulit pihaknya mengurus dokumen visa. Ia tidak menjelaskan mendetail. Tapi yang pasti lantaran menjadi dokumen penting dalam pemberangkatan umrah.

Ia menjanjikan bakal memberangkatkan sebanyak 4.500 calon jamaah pada 1 Mei 2017 mendatang. Solusinya, para calon jamaah harus membayar biaya tambahan Rp 2,5 juta per orang dan akan diberangkatkan dengan maskapai Saudi Airlines. Menurutnya, hal tersebut opsi bukan paksaan. Sebab memasuki bulan Ramadan dan Rajab harga-harga menjadi naik.

Sementara Anniesa Hasibuan, Wakil CEO First Travel yang juga istri Andika Surachman menjelaskan awal mula kronologi kasus penundaan calon jemaah umrah itu. Akhir Maret 2016 lalu, sebanyak 270 jamaah dari Sidoarjo, Jawa Timur mendapat kendala di bandara Soekarno Hatta karena masalah visa. Hal ini, menyebabkan jemaah tersebut gagal berangkat. “Berawal dari masalah itu, kami selalu dipersulit oknum tertentu dan terpaksa terus reschedule,” tuturnya.

Sejak saat itu, beberapa jemaah menjadi mudah terprovokasi pemberitaan sepihak. Masalah bertambah dengan kesulitan First Travel dalam pembuatan dokumen syarat wajib umrah, yang berujung pada jadwal keberangkatan yang kacau.

Jangan menuding

Sementara Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) Muhajirin Yanis mengaku terus mengawasi komitmen First Travel memberangkatkan jemaah sesuai tanggal yang mereka tetapkan. Ini merupakan tanggungjawab Kementerian Agama. “Jika nanti ada wanprestasi, itu tergantung jemaah bagaimana menyikapi. Sekarang kami pegang komitmen mereka yang sudah diumumkan di mana-mana,” ungkapnya, ke KONTAN, Senin (24/4).

Kemenag sendiri sudah menyetujui solusi yang First Travel tawarkan. Seperti tambahan biaya dengan memakai pesawat carter, asalkan tidak merugikan jamaah.

Ia menyarankan pihak First Travel menyelesaikan terlebih dahulu masalah internal perusahaan, sebelum menuding ada oknum yang menghambat proses pengurusan pemberangkatan calon jamaah umrah perusahan tersebut. “Jangan sampai ada pihak yang tidak tahu, justru menjadi tertuduh,” sarannya.

Ia berharap, First Travel mau menjalin komunikasi yang baik dengan pihak yang berwenang dalam pengurusan jamaah umrah. Supaya tidak terjadi salah paham.

Salah satu calon jamaah First Travel, Amina Septi masih mengeluhkan kurangnya informasi soal jadwal keberangkatan First Travel. Ia mengaku sudah mendaftar sejak April 2016 bersama lima anggota keluarga dan sudah melunasi biaya membayar lunas sebanyak Rp 14,3 juta per orang.

Ia dijanjikan berangkat setahun setelah pelunasan. “Sampai sekarang masih belum ada penjelasan,” lanjutnya ke KONTAN. Ia menyayangkan agen First Travel yang kurang komunikatif. Untuk memperoleh informasi keberangkatan, Amina harus menghubungi si agen terus menerus. Nah, soal tambahan biaya Rp 2,5 juta untuk keberangkatan awal, Amina tidak akan membayar lagi dan berencana refund. “Sudah kapok dan kami sedang diskusi soal langkah selanjutnya,” keluhnya.