Jakarta -IHSG pada perdagangan awal Juli bergerak bervariasi dalam rentang konsolidasi. Hampir sepanjang perdagangan bergerak di teritori positif, terimbas sentimen positif pasar emerging market kawasan Asia, namun gagal ditutup menguat. IHSG akhirnya ditutup terkoreksi tipis 6,6 poin (0,1%) di 4904,063. Perdagangan berlangsung kurang bergairah dengan nilai transaksi di Pasar Reguler hanya Rp3 triliun dan pemodal asing masih melakukan penjualan bersih Rp211,43 miliar. Data inflasi Juni yang mencapai 0,54% secara bulanan dan 7,26% secara tahunan, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,5% (mom) dan 7,15% (yoy) membuat pasar kurang nyaman memegang aset beresiko dalam rupiah. Inflasi Juli diperkirakan akan lebih tinggi karena masih terpengaruh dengan momentum Idul Fitri.

Dari eksternal, data aktivitas manufaktur China Juni kembali mengindikasikan perekonomian negara tersebut melambat turut mempengaruhi sentimen pasar. Indeks China Final Manufacturing PMI Juni di 50,2 di bawah perkiraan 50,4. Sementara pasar saham global tadi malam berhasil rebound karena pasar kembali berspekulasi penyelesaian utang Yunani dengan krediturnya akan mendapatkan resolusinya. Indeks Eurostoxx di zona Euro menguat 2,10% di 3496,28. Di Wall Street indeks DJIA dan S&P berhasil menguat masing-masing 0,79% dan 0,69% tutup di 17757,91 dan 2077,42. Pelaku pasar optimis Yunani tetap akan berada di zona Euro dan pemerintahan Yunani kembali mengajukan draft proposal penyelesaian utang dengan mengakomodasi sejumlah persyaratan yang diajukan kreditur. Selain isu Yunani, rebound Wall Street turut dipicu data ekonomi AS yang keluar yang di atas perkiraan. Angka kesempatan kerja di negara tersebut bulan lalu bertambah 237 ribu di atas perkiraan 219 ribu.Pengeluaran konstruksi di AS Mei lalu meningkat 0,8% secara bulanan di atas estimasi 0,4%. Data ekonomi tersebut menunjukkan perekonomian AS tetap tumbuh moderat. Sedangkan harga minyak mentah tadi malam anjlok 4,4% di USD56,84/barel menyusul meningkatnya cadangan minyak mentah negara tersebut pekan lalu yang bertambah 2,4 juta barel dan isu kesepakatan perjanjian nuklir Iran.

Dengan kondusifnya pasar global tadi malam menyusul rendahnya kekhawatiran atas krisis utang Yunani, pergerakan IHSG diperkirakan akan kembali berpeluang bergerak di teritori positif. Harga minyak yang turun turut membantu sentimen positif pasar karena berdampak positif bagi perekonomian dan rupiah diperkirakan berpeluang menguat. IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang konsolidasi dengan support di 4890 dan resisten di 4930 cenderung menguat.