PT KONTAK PERKASA FUTURES – Emas sebagai aset safe haven nampaknya agak diragukan di tengah ketidakpastian global makin memanas. Perang dagang Amerika Serikat (AS)-China tak kunjung selesai malah makin runyam, begitu pula dengan Brexit, dan perlambatan ekonomi global.

Senin (27/5) pukul 19.35 WIB, harga emas untuk pengiriman Agustus 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.290,40 per ons troi, naik 0,09% jika dibandingkan dengan harga penutupan kemarin pada US$ 1.289,20 per ons troi.

Sejak awal pembukaan harga emas beranjak naik. Analis PT Rifan Financido Berjangka Puja Purbaya Sakti mengatakan isu tentang Brexit dan perang dagang China-AS tetap menjadi fokus pasar emas pada perdagangan pekan ini.

Jumat (24/5), China mengecam Sekretaris Negara AS Mike Pompeo, karena mengarang rumor bahwa Kepala Eksekutif Huawei telah berbohong mengenai hubungan Huawei dan pemerintah China. Di sisi lain, lemahnya data ekonomi AS yang diumumkan pada minggu lalu kian mengkhawatirkan.

Pekan lalu, AS melaporkan data Purchasing Manager’s Index (PMI) edisi Mei versi IHS Markit ada di 50,6%. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 52,6 dan menjadi yang terendah sejak September 2009.

Sakti mengatakan, banyak pihak yang menduga hal itu merupakan imbas dari perseteruan dagang dengan China. Dengan demikian, maka ada kemungkinan bahwa The Fed harus kembali mempertimbangkan kebijakan pemotongan suku bunga.

Sepertinya pamor dollar AS mengalahkan emas. Lebih lanjut ia menilai logam mulia memasuki fase baru ketidakpastian perannya sebagai aset safe haven terkemuka, karena pasar tampaknya lebih menyukai dollar AS sebagai aset safe haven terhadap perang dagang AS-China. Senin (27/5) pukul 17.57 WIB indeks dollar AS naik 0,13% di level 97,74.

Hal ini terlihat dari kekhawatiran baru mengenai perpanjangan perang dagang AS-China setelah munculnya retorika yang keras dari China. Namun para investor juga mengawasi pemilihan parlemen di Inggris dan Belanda yang sedang berlangsung sejak Kamis (16/5), dengan partai populis kemungkinan berhasil.

Isu Brexit Inggris tetap tidak terselesaikan dengan rencana pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May terus membebani poundsterling. “Arah emas pada minggu depan akan diputuskan oleh penggantian May dan apakah kandidat akan terus mendorong Brexit,” kata Sakti kepada Kontan, Senin (27/5).

Selain itu, pasar juga memperhatikan langkah selanjutnya dari Federal Reserve AS karena serangkaian data yang lemah dari AS akhir pekan lalu mempromosikan taruhan untuk penurunan suku bunga yang diperkirakan oleh bank sentral. Kata skate meski kalah pamor dari dollar AS, performa emas masih cukup baik.

Secara analisa teknikal Sakti mengamati harga emas di mana indikator moving average exponential (EMA) dengan kondisi yang mulai melebar menunjukkan arah harga berpotensi kembali menguat. Selanjutnya pada indikator relative strengh index (RSI) berada di area 52 yang menunjukkan arah harga naik. Kemudian pada indikator commodity channel index (CCI) berada di area 40 yang menunjukkan arah harga berpotensi naik.

“Secara umum emas berpotensi untuk kembali lanjutkan gain pada perdagangan selanjutnya,” tutur Sakti.

Untuk itu ia merekomendasikan beli emas selama harga di atas US$ 1.290,00 per ons troi.

Ia meramal untuk perdagangan Selasa (28/5) harga emas bakal berkutat di level support US$ 1.281,62, US$ 1.278,68, dan US$ 1.273,93 per ons troi. Sementara level resistance antara US$ 1.286,37, US$ 1.288,18, dan US$ 1.292,93 per ons troi.

Selanjutnya untuk prediksi harga emas selanjutnya di rentang support US$ 1.273,47, US$ 1.262,38, dan US$ 1.244,38 per ons troi. Sedangkan level resistance antara US$ 1.291,47, US$ 1.298,38, dan US$ 1.316,38 per ons troi.

Source : kontan.co.id