KONTAK PERKASA FUTURES – Kondisi perekonomian dunia masih dirundung ketidakpastian. Ketidakpastian ini berdampak pada perlambatan ekonomi dunia dan dipicu oleh banyak hal mulai dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), hingga isu terorisme. Tapi hal tersebut tidak terjadi pada Indonesia.

Begitulah yang diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardjojo, pada acara seminar Evaluasi Paket Kebijakan Ekonomi INDEF yang berlokasi di Kampus STEKPI, Kalibata, Jakarta, Rabu (27/7/2017).

“Kita lihat sendiri bahwa di dunia saat ini banyak kekhawatiran. Hal tersebut terjadi akibat dari kondisi pertentangan politik yang terjadi di beberapa negara, risiko pengungsi, terorisme, dan lainnya,” papar Agus.

“Juga ketidakpastian akan Brexit yang jangka pendek telah mereda, tapi masih diliputi ketidakpastian untuk jangka menengah dan jangka panjang. Disebabkan harus ada renegosiasi ulang Inggris bersama negara Uni Eropa,” ungkapnya.

Agus meneruskan, perlambatan ekonomi di banyak negara tersebut nampaknya tak berpengaruh banyak pada perekonomian Indonesia.

“Di Indonesia tetap stabil, bahkan menampilkan perbaikan. Ekonomi kita terjaga dan saat ini kita melihat perbaikan struktural yang dilaksanakan pemerintah. Tidak hanya memperbaiki sektor riil, namun juga fiskal serta moneter,” ujarnya.

Mantan Menteri Keuangan tersebut menuturkan, masih kuatnya fundamental ekonomi Indonesia dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga dengan baik dari target.

“Di tengah situasi dunia yang tidak menentu, kita harus bersyukur kita tidak hanya stabil saja, tetapi menunjukkan arah perbaikan. Hingga semester kedua 2016 kira-kira terdapat pada kisaran pertumbuhan 5-5,4%, lebih tinggi dari 2015 yang ada di 4,8%,” terang Agus.

Selain hal tersebut, selain sektor konsumsi rumah tangga yang diperkirakan mulai menanjak, nilai ekspor pun mengalami perbaikan setelah membaiknya harga komoditas utama.

“Konsumsi rumah tangga meningkat didukung terjaganya daya beli serta meningkatnya pendapatan, serta ditunjang inflasi yang terkendali. Lalu terdapat perbaikan ekspor dengan membaiknya harga komoditas. Harga palm oil misalnya mengalami peningkatan pada triwulan kedua sebesar 18% dibandingkan YoY tahun lalu,” ucap dia.

Catatan sentimen positif yang lain, terang Agus, bisa dilihat pada arus dana asing yang masuk. Hingga 25 Juli 2016 lalu saja, sudah terdapat Rp 128 triliun dana asing yang masuk sebagai respons atas pemberlakuan tax amnesty.

“Kita hingga Juni saja masuk Rp 102 triliun, saat ini sampai 25 Juli dana masuk sudah ada Rp 128 triliun. Coba bandingkan dengan tahun kemarin, satu tahun saja Rp 55 triliun. Artinya itu jumlah yang signifikan, nah hal tersebut masuk ke pasar modal, pasar keuangan diantaranya SBN (Surat Berharga Negara), juga pada instrumen BI,” papar Agus.

Source : detik.com