PT KONTAK PERKASA – Bursa Amerika Serikat (AS) bergerak mixed pada pertengahan pekan. Rabu (20/6), Dow Jones Industrial Average turun 0,17% ke level 24.657. Indeks S&P 500 justru naik 0,17% ke 2.767. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,72% ke 7.781.

Kekhawatiran perang dagang masih mewarnai Wall Street hingga kini. Uni Eropa akan mulai menerapkan tarif impor 25% untuk produk-produk AS mulai Jumat. Langkah ini merupakan balasan setelah AS menerapkan tarif impor baja dan aluminium dari Uni Eropa, yang berlaku mulai Juni.

“Banyak orang yakin bahwa langkah Presiden AS Donald Trump merupakan taktik negosiasi. Banyak yang masih percaya perang dagang akan berlanjut dengan China yang akan mengajukan konsesi pertama,” kata Robert Pavlik, chief investment strategist dan senior portfolio manager SlateStone Wealth kepada Reuters.

Antisipasi ini masih menahan laju pasar saham. Dow Jones gagal menghentikan penurunan dan mencatat penurunan dalam tujuh hari perdagangan berturut-turut.

Eskalasi perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China mengguncang pasar saham global. Ketiga indeks utama di Wall Street ditutup merosot pada perdagangan Selasa (19/6) waktu setempat.

Mengutip Bloomberg, Dow Jones Industrial Average berakhir turun 287,26 poin atau 1,15% menjadi 24.700,21. Indeks S&P 500 mengekor dengan penurunan sebesar 11,18 poin atau 0,40% ke level 2.762,57. Begitu pula dengan Nasdaq Composite tergerus 21,44 poin atau 0,28% menjadi 7.725,59.

Indeks acuan saham AS langsung melemah sejak awal perdagangan, karena perang dagang antara AS dan China kian memanas. Meski sempat mencoba naik, namun indeks tak mampu berakhir di zona positif. Dengan penurunan tersebut, kinerja Dow Jones pada tahun ini sudah minus.

Presiden Donald Trump mengancam akan mengenakan tambahan tarif impor 10% pada barang-barang Cina lainnya senilai US$ 200 miliar. Beijing pun memperingatkan akan membalasnya.

Ancaman Trump itu dilontarkan menyusul keputusan China menaikkan tarif impor sebesar US$ 50 miliar terhadap barang-barang AS.

“Investor tersadar dengan pemikiran bahwa semua retorika dalam perdagangan bisa lebih dari sekadar taktik negosiasi,” kata Emily Roland, kepala riset pasar modal di John Hancock Investments, seperti dilansir Reuters, Rabu.

Meski demikian, mengingat retorika dari kedua negara tersebut yang memanas belakangan ini, sejumlah investor menilai penurunan pada saham AS relatif kecil. “Pasar AS telah bertindak lebih kuat daripada pasar ekuitas global. Ini terbilang respons yang tenang,” kata Michael O’Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading.

Indeks volatilitas CBOE, yang mengindikasikan tingkat kekhawatiran di Wall Street, sempat mencapai 14,68, tertinggi hampir tiga minggu, sebelum turun ke 13,35.

Source : kontan.co.id