Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Mungkin, inilah gambaran Kementerian Perindustrian (Kemprin) yang berusaha agar industri dalam negeri mendapatkan harga gas yang murah sekaligus menggiring mereka untuk merelokasi pabrik ke daerah kawasan industri.

KONTAK PERKASA FUTURES – Kemprin dalam usulan terbarunya tersebut menyebut diskon harga gas akan berlaku bagi semua industri yang membangun pabrik di kawasan industri bisa menikmati diskon harga gas. Ini nampaknya menambah lagi deretan panjang usulan Kemprin.

Pasalnya, Menteri Perindustrian yaitu Airlangga Hartarto mengusulkan agar industri pulp dan kertas, makanan dan minuman, tekstil serta alas kaki serta ban mendapat diskon harga gas. Usulan tersebut menambah deretan panjang industri yang mendapatkan diskon harga gas.

Peraturan Presiden No 40/ 2016 menyebutkan ada tujuh sektor industri yang mendapatkan penurunan harga gas adalah keramik, kaca, pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, dan sarung tangan karet.

“Kami ingin saat industri sudah masuk ke kawasan industri, harga gas murah supaya produk mereka daapt bersaing,” ujar Airlangga seusai pertemuan dengan Dewan Energi Nasional (DEN) hari Rabu (7/9).

Menurut dia, kebijakan tersebut selaras dengan Rencana Umum Energi Nasional (REUN). Yaitu, harga gas menjadi modal pembangunan, yang mampu mengulirkan efek tambahan atau multiplier effect.

“Ketiga, harga gas tersebut untuk pengembangan wilayah atau alat bagi pemerataan ekonomi,” kata Airlangga.

Keinginan Kemprin membawa pabrik ke kawasan industri, kata Airlangga, agar menciptakan efisiensi, meningkatkan produktivitas serta berinovasi. Jika ketiga hal itu tercapai maka Kemprin yakin daya saing industri dalam negeri bertambah.

“Penurunan harga gas adalah salah satu cara untuk memotong biaya produksi serta biaya bahan baku,” imbuh Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, yaitu Imam Haryono, Selasa (6/9).

Imam memberi contoh harga gas Kawasan Industri Semangke pada tahun 2015 mencapai hingga US$ 16 per mmbtu. Kondisi ini sangat menyulitkan industri di dalamnya. Dalam hitungan Kemprin, sekarang penggunaan gas oleh industri dalam negeri mencapai hingga 505,14 juta mmbtu.
Pada tahun 2020, pemerintah memprediksikan penggunaan gas di dalam negeri dapat menjadi 621,71 juta. Minta harga yang murah Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sanny Iskandar melihat penurunan harga gas bagi industri yang beroperasi pada kawasan industri adalah lumrah.

“Mereka yang beroperasi di daerah kawasan industri wajar jika diberikan insentif yang lebih menarik, seperti misalnya harga gas yang lebih murah,” ujar Sanny kepada kami, Selasa (6/9).

Bagi Sanny, kebijakan ini sudah sesuai dengan No 3/2014 tentang UU Perindustrian dan Peraturan Pemerintah No 142/2015 tentang Kawasan Industri. Sementara itu, soal berapa harga gas yang wajar bagi industri saat ini, Himpunan Kawasan Industri berharap pemerintah bisa menurunkan harga gas menjadi US$ 4-US$ 5 per mmbtu.

Sebagai gambaran saat ini mayoritas industri masih membayar gas dengan harga di atas US$ 12 per mmbtu. Dengan hitungan harga US$ 4-US$ 5 per mmbtu, Sanny percaya industri di dalam negeri akan mampu bersaing dengan produsen dari negara negara tetangga. Maklum selama ini mereka juga mendapatkan harga bahan baku gas yang murah di kisaran US$ 4-US$ 5 per mmbtu.

Di sisi lain, kabar insentif harga gas murah bagi industri yang beroperasi di kawasan industri ini cukup melegakan pengelola kawasan industri.

“Jika bisa penurunan harga gas di atas 10%,” ujar Hyanto Wihadi, Direktur Pengembangan Usaha PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. Pasalnya, kebijakan ini tak cuma meningkatkan daya saing industri dalam negeri tapi bisa mengundang masuknya investasi baru khususnya foreign direct investment (FDI) atau investasi asing.
Masalahnya, hingga saat ini, putusan harga gas masih menggantung. Kementerian ESDM masih belum memberikan keputusan besaran kenaikan harga gas.

Source : kontan.co.id