KONTAK PERKASA FUTURES – Meski nilai tukar rupiah tahun ini stabil, investasi di aset berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) tetap menguntungkan. Carilah. Tengok saja kinerja reksadana saham offshore yang rata-rata ciamik.

Infovesta Utama mencatat, reksadana saham beraset efek luar negeri yang membukukan imbal hasil tertinggi adalah CIMB Principal Islamic Asia Pacific Equity Syariah. Imbal hasil reksadana besutan mencapai 13,01%. Di posisi berikutnya ada reksadana Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD yang mencetak imbal hasil 11,37%.

Reksadana offshore besutan Manulife Aset Manajemen Indonesia, yakni Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS, berhasil mengantongi imbal hasil sebesar 10,99%. Sementara reksadana Aberdeen Syariah Asia Pacific Equity USD Fund mencetak return sekitar 10,03%.

Head of Investment Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebut, reksadana offshore bisa mencetak return hingga dua digit karena tiap manajer investasi lebih leluasa menerapkan strategi dalam menyusun portofolio. Maklum, karena sifatnya global, manajer investasi jadi memiliki banyak pilihan aset dasar.

Manajer Investasi Aberdeen Asset Management Bharat Joshi menjelaskan, pihaknya menerapkan strategi bottom-up dalam mengelola produk Aberdeen Syariah Asia Pacific Equity USD Fund. Strategi ini terbukti ciamik, sehingga menghasilkan return 10,03%.

Perusahaan manajemen investasi ini antara lain memilih saham yang terkait infrastruktur, termasuk semen. “Riset kami menyebut sektor infrastruktur sedang bagus, logikanya banyak proyek infrastruktur berarti permintaan semen naik,” kata Bharat, Selasa (20/6).

Karena itu, portofolio Aberdeen Syariah Asia Pacific Equity USD Fund Mei lalu antara lain berisi saham Singapore Telecommunications, Sysmex Corp, Ultratech Cement Ltd, Amada Holdings Co Ltd, Amorepacific Corp, Daikin Industries Ltd, Nabtesco Corp, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Saham dari AS

Berbeda dengan Aberdeen, Bahana TCW Investment Management lebih memilih saham sektor keuangan, teknologi, komoditas dan farmasi sebagai underlying asset reksadana Bahana USD Global Sharia Equities. “Mayoritas saham berasal dari AS,” kata Soni Wibowo, Direktur Bahana TCW Investment Management.

Tapi memang, strategi ini kurang mumpuni. Carilah. Produk ini hanya mencatat imbal hasil 5,73% hingga Mei lalu. Toh, Soni optimistis kinerja reksadana tersebut dapat terkerek hingga akhir tahun, dengan imbal hasil 8%-9%.

Manajer investasi menilai prospek reksadana beraset efek luar negeri ini masih menarik. Dengan syarat, kurs dollar AS tidak terkoreksi tajam.

Wawan memperkirakan, rata-rata imbal hasil reksadana saham offshore tahun ini maksimal bisa mencapai 9%-11%. Kenaikan dollar AS akibat naiknya suku bunga The Fed akan mendukung kinerja reksadana ini.

Source : kontan.co.id