KONTAK PERKASA FUTURES – Membeli rumah dengan cara KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) memang membantu siapa saja yang mau mempunyai rumah. Tapi yang menjadi ganjalan, sistem bunga yang dijalankan oleh KPR konvensional membuat banyak orang tidak mau memilihnya (khususnya muslim) karena keterkaitannya dengan riba yang dinilai haram.

Karena hal itu, sistem syariah pun diberlakukan, yaitu pengembalian kredit yang dipinjam tapi tidak berbunga. Dengan demikian, KPR Syariah pun mengemuka sebagai solusi bagi umat muslim yang tidak memiliki uang berlebih tapi tetap berkeinginan untuk mempunyai rumah.

Standarnya, syariah lebih mengutamakan sistem bagi hasil. Walaupun demikian, terdapat dua model kredit syariah yang perlu untuk diketahui, terutama oleh mereka yang berniat mengambil kredit pemilikan rumah.

Walaupun sama – sama syariah, terdapat perbedaan pada metode pembayarannya. Lantas, apa saja sistem perhitungan KPR dan cara pembayarannya?

1. Murabahah
Murabahah yaitu perjanjian jual – beli antara bank dan nasabah. Secara sederhana, kalau menggunakan akad ini, pihak bank akan terlebih dahulu membeli barang (dalam hal ini yaitu rumah) yang diminati nasabah, untuk kemudian dijual lagi ke nasabah yang terkait

Tapi tentu saja, pihak bank akan memberikan persentase keuntungan yang didapat dari kesepakatan kedua belah pihak.

Dengan cara ini, nasabah akan tahu beban cicilan tiap bulan yang harus dibayarkan, dan juga harga asli serta keuntungan yang diambil oleh pihak bank dilihat dari nilai jualnya. Selanjutnya, nasabah hanya tinggal mencicil tiap bulannya.

Apabila diilustrasikan, kalau Anda mau membeli rumah senilai Rp 500 juta dengan DP (uang muka) 20% serta margin keuntungan 5% dari nilai rumah selama jangka waktu 15 tahun, maka perhitungan pembayarannya adalah:
– Pembayaran uang muka kepada pengembang atau pemilik rumah (jika beli rumah second),
DP = Rp 500 juta x 20%
DP = Rp 100 juta

– Cicilan tiap bulannya selama 15 tahun,
Cicilan = Rp 400 juta x (5% x 15) + Rp 400 juta : 180
Cicilan = Rp 300 juta + Rp 400 juta : 180
Cicilan = Rp 3,8 juta / bulan

2. Musyarakah Mutanaqisah
Musyarakah Mutanaqisah yaitu membeli suatu barang (dalam hal ini adalah rumah) menggunakan sistem kongsi atau kerja sama. Setelah pembelian berhasil dilakukan, salah satu pihak lalu membeli barang tersebut secara penuh menggunakan cara bertahap.

Secara sederhana, nasabah dan pihak bank akan bekerja sama untuk membeli sebuah barang properti yang diinginkan (misalnya rumah) dengan persentase yang telah disepakati.

Supaya mendapat untung, rumah tersebut lalu disewakan dengan si nasabah yang menjadi penyewanya.

Lalu keuntungan sewa dibagi dua berdasarkan persentase dengan tambahan biaya lebih untuk pengalihan persentase kepemilikan bank. Hingga akhirnya, rumah menjadi hak milik nasabah sepenuhnya.

Berikut ilustrasi perhitungannya:
– Nasabah berniat membeli rumah senilai Rp 300 juta dengan menggunakan akad Musyarakah Mutanaqisah.
– Dari hasil kesepakatan, nasabah membeli kepemilikan 20% (Rp 60 juta), sedangkan sisanya ditanggung oleh pihak bank (80% / Rp 240 juta).

– Dari hasil kesepakatan pula, keuntungan yang didapat oleh bank dari harga sewa rumah setiap bulannya berjumlah Rp 1,6 juta dalam jangka waktu 10 tahun.

– Kemudian, nasabah wajib membayarkan Rp 1,6 juta per bulan ditambah dengan biaya pengalihan hak rumah dari bank (yang sebesar 80%). Seperti pada umumnya, biaya pengalihan ini berdasarkan pada kesepakatan bersama. Semakin besar biayanya, semakin cepat pula tenor pelunasannya.

Source : detik.com