KONTAK PERKASA FUTURES – Asosiasi Perbankan Daerah mengajak Bank Pembangunan Daerah menambah pembiayaan ke sektor infrastruktur di daerah. Selama ini pembiayaan BPD masih disalurkan untuk kebutuhan masyarakat.

Ketua Asbanda Kresno Sediarsi mengemukakan sekarang BPD masih terhambat dengan likuiditas yang terbatas untuk membiayai proyek infrastruktur.

Tapi, dengan skema sindikasi antar bank daerah, dana yang mulanya kecil lalu disatukan untuk diikutsertakan pada pembiayaan infrastruktur.

Meskipun dana ini belum menutupi keperluan pembangunan infrastruktur, tapi dengan itu dapat mengubah portofolio dari konsumtif ke produktif.

“BPD seluruh Indonesia berusaha menggeser portofolio pembiayaan ke arah yang lebih bermanfaat, dari konsumtif ke infrastruktur,” ucap Kresno di Jakarta Selasa 24 Mei 2016.

Kresno mengemukakan, persentase pembiayaan dari BPD sekarang sekitar 60:40. Sebesar 60 persen dialokasikan untuk pembiayaan konsumtif dan 40 persen dialokasikan untuk pembiayaan produktif.

Kresno yakin dalam tiga tahun ke depan BPD dapat membalikan angka tersebut menjadi 40:60, yang fokus pada pembiayaan produktif. Bahkan, Kresno mendorong presentase itu menjadi 30:70.

Kresno menjelaskan, pembangunan infrastruktur tidak seluruhnya membutuhkan dana besar. Sehingga BPD bisa memberikan pembiayaan meskipun yang dikeluarakan hanya Rp 5 M-Rp 20 M.

“Kan tidak semuanya butuh biaya besar. Kami juga ada proyek-proyek yang di bawah Rp 20 miliar,” lanjut Kresno.

Kresno menyebutkan dana yang dimiliki seluruh BPD didapat dari deposito berjumlah sekitar Rp 426 triliun.

Saat ini, banyak pembiayaan infrastruktur yang ditawarkan kepada BPD. Namun, BPD masih memperhitungkan apakah dana yang diberikan bisa bermanfaat atau tidak.

Source : kompas.com