KONTAK PERKASA FUTURES – Bank Indonesia (BI) mencatat masuknya arus modal asing (capital inflow) yang lebih tinggi di awal 2017. Gubernur BI Agus Martowardojo bilang, sampai pertengahan bulan ini, jumlah arus modal asing yang masuk mencapai Rp 24,4 triliun, lebih tinggi dibanding periode sama 2016 sebesar Rp 20 triliun.

Kenaikan tersebut, menurut Agus, dipengaruhi optimisme pasar terhadap kondisi Indonesia, di tengah tekanan yang dialami negara-negara lain. Hal itu tercermin dari defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) 2016 yang turun menjadi 1,8% dari produk domestik bruto (PDB) dibanding akhir 2015 yang sebesar 2% dari PDB.

Inflasi yang rendah, yakni 3,01% dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01% di 2016 juga berdampak positif. Apalagi posisi cadangan devisa akhir Januari 2017 naik menjadi US$ 116,9 miliar, dari akhir Desember 2016 yang sebesar US$ 116,4 miliar.

Membaiknya fundamental ekonomi Indonesia juga diakui lembaga pemeringkat internasional. Baru-baru ini, Moody’s Investors Service meningkatkan prospek peringkat utang luar negeri (ULN) Indonesia dari stable menjadi positive. Ini mengafirmasi rating pada Baa3 (investment grade), karena kerentanan sektor eksternal turun. “Ini kondisi yang kuat,” kata Agus, Jumat (10/2). Inflow yang lebih tinggi juga mencerminkan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang cenderung menguat tahun ini. Sejak awal tahun hingga pertengahan Februari, rupiah bergerak di level Rp 13.300 per dollar AS. Sementara periode yang sama tahun lalu, rupiah bergerak di level Rp 13.800 per dollar AS.

Tetap waspada

Namun menurut Agus, kondisi eksternal masih perlu diwaspadai. Salah satunya tekanan geopolitik di Prancis dan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Kondisi AS juga masih perlu diwaspadai, khususnya rencana Donald Trump memotong tarif pajak yang akan diumumkan dalam satu hingga dua minggu ke depan. Hal itu akan menguatkan optimisme terhadap perbaikan korporasi di AS, sehingga investor akan lebih memilih berinvestasi di pasar keuangan AS dan berdampak terhadap pasar keuangan global. Meski begitu, Agus melihat kebijakan Trump tersebut tidak berdampak terlalu besar terhadap ekonomi Indonesia.

Agus optimistis, arus modal asing masih akan masuk ke Indonesia. Apalagi risiko berinvestasi di Indonesia semakin rendah. Ini tampak dari credit default swap (CDS) Indonesia yang turun menjadi 140 basis points (bps) atau 1,4%. “Itu menunjukkan confident terhadap Indonesia tinggi,” tambahnya.

Ekonom Maybank Indonesia Juniman mencatat, capital inflow dari 1-10 Februari 2017 sebesar Rp 3 triliun-Rp 4 triliun di pasar obligasi dan US$ 48 juta di pasar saham. Sedangkan pada Januari 2017, terjadi inflow di pasar obligasi Rp 19 triliun dan outflow US$ 100 juta di pasar saham. “Secara keseluruhan, inflow masih banyak itu mengindikasikan kurs masih stabil sampai sekarang,” katanya.

Stabilnya nilai tukar rupiah di kisaran Rp 13.300-Rp 13.400 per dollar AS diperkirakan akan berlangsung hingga The Fed menaikkan suku bunga. Juniman melihat, peluang kenaikan ada di Maret 2017. Akan tetapi peluang lebih besar terjadinya kenaikan suku bunga The Fed adalah di Juni dan September 2017.

Oleh karena itu, pada Maret 2017, rupiah diperkirakan bergerak ke level Rp 13.400 per dollar AS dan Juni ke level Rp 13.550 per dollar AS. Namun secara perlahan, rupiah akan kembali ke Rp 13.400 per dollar AS di September 2017 dan ke Rp 13.300 per dollar AS di akhir tahun.

Source : kontan.co.id