PT KONTAK PERKASA FUTURESAnalis Monex Investindo Futures, Faisyal meramal harga emas berpeluang untuk bergerak naik dalam jangka pendek seiring sedang melemahnya dollar Amerika Serikat (AS). Benar saja, dalam pasar spot Senin (29/4) pukul 12.40 WIB, dollar AS melemah 0,04% di level 97,96

Harapan muncul sejak pembukaan harga emas melemah tapi masih tipis. Senin (29/4) pukul 12.45 WIB, harga emas untuk pengiriman Juni 2019 di Commodity Exchange berada di US$ 1.285,82 per ons troi, turun 0,05% jika dibandingkan dengan harga akhir pekan lalu.

Jumat lalu pasar mempertimbangkan pesimistisnya data inflasi AS dari data gross domestic product (GDP) yang dirilis pekan lalu serta adanya seruan dari penasihat gedung putih Larry Kudlow yang meminta Federal Reserve memangkas suku bunganya.

Hari ini pasar menantikan rilis data Core PCE Price Index, Personal Spending dan Personal Income dari AS yang akan dirilis pukul 19:30 WIB yang berpotensi akan memicu volatilitas pada harga emas.

Kata Faisyal bila harga bergerak naik, level resistance terdekat terlihat di area US$ 1.290 per ons troi, menembus ke atas dari level tersebut berpotensi memicu kenaikan lanjutan untuk menguji resisten di US$ 1.295 per ons troi, sebelum menargetkan resisten kuat di US$ 1.301 per ons troi.

Sebaliknya jika bergerak turun, level support berada di US$ 1.282 per ons troi menembus ke bawah dari zona tersebut dapat memicu penurunan lanjutan untuk menguji ke level US$ 1.277 per ons troi, sebelum menargetkan ke area US$ 1.271 per ons troi.

Pada perdagangan selanjutnya Faisyal dalam analisisnya, Senin (29/4), ia memprediksi harga emas akan berkutat di level resistance antara US$ 1.282, US$ 1.277, dan US$ 1.271 per ons troi. Sementara level resistance antara US$ 1.290, US$ 1.277, dan US$ 1.271 per ons troi.

Euro berhasil menguat memanfaatkan peluang rebound terhadap dollar AS. Mengutip Bloomberg, Jumat (26/4), pasangan mata uang EUR/USD tercatat menguat 0,17% ke level 1,1151.

“Euro sedang memanfaatkan rebound setelah berada di level rendah cukup lama, meski sentimen di kawasan Eropa juga belum bagus karena perlambatan ekonomi Jerman dan kejelasan Brexit belum terjadi,” kata Analis Finex Berjangka, Nanang Wahyudi, Jumat (26/4).

Dari sisi AS, Nanang memproyeksikan ke depan ekonomi AS akan cenderung melambat karena mengaca pada kebijakan The Fed yang tidak terlalu agresif dalam mengambil keputusan moneter.

Meski begitu, data pertumbuhan ekonomi AS di kuartal I 2019 yang rilis, Jumat (26/4) malam, tercatat tumbuh positif sebesar 3,2% lebih tinggi dari prediksi pelaku pasar di 2,2%.

“Respons pelaku pasar pada dollar masih kurang baik. Kondisi harga komoditas yang sedang terkoreksi juga merugikan dollar AS,” kata Nanang.

Secara teknikal, Nanang mengamati kini trennya adalah pembalikan arah dari melemahnya mata uang utama jadi menguat. “Market cenderung masih antisipasi terhadap data ekonomi AS yang melambat,” kata Nanang.

“EUR/USD berpotensi lanjut menguat di tengah harga masih berada di MA50, MA100, dan MA200 dan stochastic membentuk pola golden cross atau perpotongan ke atas dan mengindikasikan adanya peluang rebound,” kata Nanang.

Untuk Senin (29/4), Nanang memproyeksikan harga EUR/USD berada di rentang support 1,1060-1,1091-1,1120 dan resistance di 1,1190-1,1124-1,1128. Nanang merekomendasikan buy on weakness untuk EUR/USD.

Source : kontan.co.id