PT KONTAK PERKASA FUTURES BANDUNG – Tekanan eksternal dan internal menyebabkan rupiah melemah akhir pekan lalu (21/10). Kurs spot rupiah terkikis 0,26% jadi Rp 13.042 per dollar AS. Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah tergerus 0,16% menjadi Rp 13.020 per dollar AS.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tri Wibowo menjelaskan, pekan lalu dollar AS menguat ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. “Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus mendorong laju the greenback sehingga rupiah tertekan,” ujar dia.

Apalagi, Gubernur The Fed bagian New York William Duddley menyatakan, kenaikan suku bunga di akhir tahun mungkin terjadi jika ekonomi Amerika Serikat (AS) terus tumbuh dan berada di jalur yang tepat.

Tekanan semakin besar setelah data penjualan rumah AS di September naik menjadi 5,47 juta dari sebelumnya 5,3 juta. Pelemahan euro setelah Gubernur European Central Bank (ECB) Mario Draghi memberi pernyataan dovish juga jadi sentimen positif bagi dollar AS.

Di awal pekan ini, dampak dari pernyataan petinggi bank sentral Eropa dan positifnya data perumahan AS masih akan memperkuat dollar AS. Sedangkan dari internal, rupiah minim sentimen.

Sejatinya kinerja pemerintah Joko Widodo dalam dua tahun pertama yang dinilai baik bisa jadi sentimen positif. Tetapi pasar masih menunggu implementasi paket kebijakan ekonomi.

Tambah lagi. rupiah terdesak setelah BI menurunkan BI 7-day reverse repo rate sebesar 25 basis poin ke level 4,75%. Tak hanya itu, suku bunga deposit facility (DF) turun menjadi 4% dan lending facility (LF) diturunkan 25 basis poin menjadi 5,5%.

“Pemangkasan suku bunga acuan BI di luar dugaan, menyebabkan pelemahan rupiah,” jelas Ekonom Bank Permata Josua Pardede.

Josua memprediksi hari ini (24/10) rupiah akan melemah dan bergerak pada rentang Rp 13.000–Rp 13.100 per dollar AS. Sementara Wahyu menganalisa rupiah akan terkikis dan bergerak di kisaran Rp 12.980–Rp 13.150 per dollar AS.

Source : kontan.co.id