KONTAK PERKASA FUTURES – Kinerja keuangan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) di paruh pertama tahun ini menggembirakan. Emiten energi ini mengantongi laba bersih mencapai US$ 222,39 juta, melonjak 82% dibanding periode sama tahun lalu sebesar US$ 122,11 juta.

Lompatan laba bersih ADRO  itu tak lepas dari membaiknya fundamental pasar batubara. Harga jual rata-rata batubara di semester I 2017 naik 42% ketimbang masa sama 2016. “Sehingga, harga jual rata-rata batubara ADRO juga ikut meningkat,” ujar Presiden Direktur ADRO Garibaldi Thohir, kemarin (28/8).

Alhasil, ADRO berhasil meraup pendapatan sebesar US$ 1,55 miliar di semester I 2017, naik 32% year on year (yoy). Pada periode itu, produksi batubara ADRO mencapai 25,13 metrik ton. Sementara penjualan batubaranya sebanyak 25,27 metrik ton.

Efisiensi bisnis perusahaan juga mendorong pertumbuhan margin laba ADRO. Memang, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat beban pokok perusahaan tersebut meningkat 16% yoy menjadi US$ 1,02 miliar. Namun, porsi beban terhadap pendapatan mereka turun ke angka 55%, dari sebelumnya di level 70%.

Karena itu, ADRO membukukan kenaikan EBITDA operasional 58% yoy menjadi US$ 626 juta. Manajemen ADRO masih optimistis, tahun ini perusahaannya mampu mengantongi EBITDA US$ 900 juta hingga US$ 1,1 miliar.

Selain itu, ADRO juga menurunkan porsi utang perbankan jangka panjang sebesar 9% jadi US$ 1,3 miliar. Adaro. Sampai Juni 2017, perusahaan tang berdiri 1982 silam itu telah membayar utang US$ 64 juta. Walhasil, rasio keuangan ADRO semakin membaik.

Saat ini, rasio utang bersih terhadap EBITDA operasional ADRO tercatat sebanyak 0,14 kali. Sedangkan posisi rasio utang bersih terhadap ekuitas (DER) mereka hanya 0,04 kali. Padahal, di periode yang sama tahun lalu, DER ADRO mencapai 0,2 kali.

Hingga enam bulan pertama tahun ini, anggaran belanja modal ADRO naik 89% menjadi US$ 51 juta. Mereka memakai bujet itu untuk pemeliharaan rutin dan kesiapan aset batubara. ADRO masih mempertahankan likuiditas US$ 1,32 miliar, yang terdiri dalam bentuk kas US$ 1,23 miliar dan US$ 80 juta berupa fasilitas pinjaman yang belum dipakai.

Source : kontan.co.id