PT KONTAK PERKASA FUTURES – Wall Street memerah pada perdagangan Kamis (4/10). Dow Jones Industrial Average turun 0,75% ke 26.627,48.

Indeks S&P 500 turun 0,82% ke level 2.901,61. Sedangkan indeks Nasdaq turun 1,81% ke 7.879,51. Penurunan bursa Amerika Serikat (AS) ini menyusul penurunan pasar secara global pada perdagangan kemarin.

Rabu, Dow Jones mencetak rekor tertinggi. Secara year to date, indeks Dow Jones naik 7,72%.

Sedangkan kenaikan Nasdaq tahun ini mencapai 14,13%. S&P 500 menguat 8,53% dalam periode yang sama.

Imbal hasil US treasury naik ke level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Artinya, harga surat utang AS ini menurun di tengah data ekonomi yang membaik. Komentar Federal Reserve pun memicu kekhawatiran inflasi yang lebih kencang.

Hari ini, pasar saham AS menunggu data non-farm payrolls yang diramal lebih tinggi daripada prediksi. Pasar juga menunggu pertumbuhan upah, terutama setelah Amazon.com menaikkan upah minimum menjadi US$ 15 per jam awal pekan ini.

“Angka pertumbuhan upah yang lebih tinggi daripada prediksi akan memicu ekspektasi bahwa inflasi mencapai lebih tinggi daripada target bank sentral pada 2%. The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih cepat daripada proyeksi sebelumnya,” kata Hussein Sayed, chief market strategist FXTM kepada Reuters.

Meski terkoreksi pada perdagangan kemarin, Wall Street sebenarnya bergerak di sekitar rekor tertinggi. “Kenaikan yield memberi peluang pasar untuk menarik napas di level yang sangat tinggi,” kata Peter Cardillo, chief market economist Spartan Capital Securities.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) jatuh pada Kamis (4/10), setelah imbal hasil obligasi pemerintah melonjak ke posisi tertinggi dalam beberapa tahun karena data ekonomi AS yang kuat dan pandangan optimistis dari The Federal Reserve.

Reuters melaporkan hingga 9:59 waktu AS, Kamis (4/10), indeks Dow Jones Industrial Average longsor 117,06 poin atau 0,44% ke level 26.711,33. Indeks S&P 500 juga jatuh 11,40 poin atau 0,39% menjadi 2.914,11. Pun indeks Nasdaq Composite merosot 64,17 poin atau 0,80% ke posisi 7.960,92.

Imbal hasil obligasi AS benchmark tenor 10 tahun naik ke posisi tertinggi yakni 3,232%  persen, setelah data terbaru ekonomi AS yang kuat meningkatkan harapan bahwa laporan non farm payroll yang akan keluar pada Jumat pagi, lebih kuat dari perkiraan.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan, ekonomi AS dapat berkembang untuk waktu cukup lama, yang juga membantu kurva imbal hasil naik ke level tertinggi dalam dua bulan.

“Risiko tumbuh dengan biaya pinjaman naik dan pasar pendapatan tetap terlihat sangat menarik,” kata Hussein Sayed, Kepala Strategi Pasar di FXTM seperti dikutip Reuters.

Source : kontan.co.id